Kementan RI Selamatkan “Mutiara” Food Estate Kalteng Dari OPT

KALTENG – JKM | Anugerah “Tambang Mutiara” food estate bagi sumber pangan nasional dan dunia. Dengan  wujudkan pangan sehat aktualisasi UU nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Produk pertanian yang sehat tentu tak lepas dari teknologi budidaya tanaman sehat yang selaras dengan penerapan Pengendalian Hama terpadu (PHT) dan Pengendalian Penyakit Terpadu (PPT). Konsistensi Kementerian Pertanian RI diwujudkan dalam perluasan kawasan food estate di Kalimantan Tengah telah melalui pendekatan PPHT, yaitu pengendalian penyakit dan hama terpadu, dengan mengoperasionalkan beberapa pengendalian baik cara Kultur Teknis, Fisik-Mekanis, Biologis-Hayati, Kimia dan mengkombinasikan teknik-teknik tersebut dalam pengelolaan pengendalian yang disebut Integrated Pest Management (IPM). 

Dengan IPM, musuh alami sahabat petani akan nyaman tinggal dan dapat berkontribusi membantu mengendalikan ledakan OPT diatas ambang ekonomi (AE). Tentu “tambang mutiara putih” ini akan menjadi primadona di dekade 2030-2040 songsong geliatnya kawasan Ibukota Negara (IKN) Nusantara dan juga akan menopang pasokkan komoditas pangan untuk ekspor .

Upaya Kementan RI  telah dilakukan dengan Pelatihan Tematik Pengendalian OPT Terpadu dikawasan Food Estate, Kalteng. Salah satu elemen ketrampilan yang diberikan oleh Tim Widyaiswara BBPP Binuang diantaranya adalah mengindentifikasi Hama  dan Penyakit tanaman padi, menentukan Ambang Ekonomi Pengendalian OPT dan mengendalikan serangan tikus terpadu.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) pada Kamis, (17/03/2022) mengatakan, Kementerian Pertanian berkomitmen tinggi menyediakan pangan sehat dan pangan standar  pasar domestic maupun ekspor. Potensi dan keanekaragaman hayati Indonesia sangat besar, untuk dikembangkan menjadi komoditas pertanian yang sehat dan berstandar ekspor. Untuk itu Mentan menekankan pentingnya upaya mempertahankan dan meningkatkan kualitas komoditas pertanian yang dihasilkan disamping upaya peningkatan produksi dan ekspor.

“Jika ditemukan 1 saja dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) ini, maka ekspor akan ditolak dan akan menjadi hambatan bagi ekspor komoditas pertanian kita, tak terkecuali beras”,Pungkasnya.

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi juga mengatakan, tantangan Bidang Pertanian  saat ini adalah peningkatan konsumsi pangan seiring  meningkatnya  jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi.

Pertanian harus mampu memenuhi kebutuhan dengan memperhatikan keutuhan dengan memperhatikan keberlanjutan lingkungan baik secara lokal maupun global.

“Pelatihan Tematik Berbasis Koorporasi mendukung food estate Kalimantan tengah Angkatan V (Pengendalian OPT Dengan Konsep PHT) Program Reguler Maksimum,dilakukan tim widyaiswara  sejak tanggal 15 maret hingga 17 Maret 2022. Peserta meliputi 30 orang dari petani milenial dan pendamping penyuluh pertanian dari 5 Kecamatan Kapuas Barat, Pulau Petak,Kapuas Murung, Mentangai dan Kapuas Hilir.”,Pungkasnya.

 (Budiono/Amalia)