Kementan Mengasah Mutiara Mutiara Kalbar, Menuju Pertanian Milenial

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) RI terus mendayagunakan segenap potensi untuk melakukan percepatan estafet pelaku usaha dari “pertanian konvensional” menjadi “petani milenial”. 
Tuntutan memenuhi pasar global dan domestik segala daya upaya ditempuh oleh Kementan baik strategi, manajemen, kelembagaan maupun teknis.

Salah satunya terus melakukan ekplorasi bibit-bibit (kader muda) pemain pertanian modern. Termasuk kegiatan pelatihan kewirausahaan yang perdana dilakukan ini dalam rangka untuk menggali dan mengembangkan duta-duta pertanian milenial di segenap pelosok propinsi Kalimantan Barat.
“Pada acara ini Kementerian Pertanian berhasil menggali dan mengembangkan mutiara mutiara dari pelosok provinsi Kalimantan Barat sebanyak 20 orang dari berbagai kabupaten di propinsi Kalimantan Barat, di antaranya Kabupaten Kayong Utara, Ketapang, Landak, Kuburaya, Sambas, dan Kota Pontianak,” papar Budiono, Widyaiswara /Fasilitator Pelatihan Kewirausahaan dari BBPP Binuang.

Mereka, lanjutnya, menerima pembekalan terkait prosedur dan tujuan ekspor Indonesia dari Balai Karantina Kelas 1 Kalimantan Barat; Kebijakan pembangunan pertanian Dinas tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat; Motivasi Usaha dari BBPP Binuang; Negosiasi dan Kemitraan dari Perhimpunan Pengusaha Penggilingan Padi (Perpadi) Provinsi Kalimantan Barat dan BBPP Binuang; Forum Diskusi Group menghadirkan Pengelola/Manajer P4S Sumber Rejeki Kabupaten Bengkayang dan P4S JAS-B Kota Singkawang shering pengalaman dalam mengembangkan kelembagaan petani (Poktan, Gakpotan, P4S dan BUMP).

Kemudian, sambungnya, mengembangkan bisnis pertanian, kemitraan usaha tani, strategi pemasaran produk pertanian, penanganan pasca panen dan proses mengajukan kredit perbankan. 
“Kegiatan dimulai sejak 27 September 2021 dan berakhir 29 September 2021. Pelatihan ini bertujuan peserta dapat mengembangkan jiwa wirausaha dan usaha taninya,” imbuhnya.
Mentan SYL mengungkapkan, Kementan terus berupaya melakukan penggalian dan pengembangan mutiara mutiara di pelosok tanah air. Harapan besar terhadap peran generasi muda milenial untuk mewujudkan transformasi sistem pertanian konvensional menuju sistem pertanian milenial.

“Harapannya pertanian ke depan menjadi lebih efisien, efektif, produktif agar mampu bersaing di pasar dunia (ekspor), sistem ketahanan pangan makin mandiri dan berdaulat serta memperkuat devisa negara,” tegasnya.
Mengingat masa depan pertanian 1 sampai 2 dekade yang akan datang sangat ditentukan oleh bagaimana mutiara mutiara ini dipersiapkan sebagai petani milenial unggul. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian terus menggenjot spirit para petani milenial. Karena pertanian itu prospektif.

Pertanian itu selain sebagai sumber pangan, pertanian pasti mampu menyediakan lapangan kerja, dan memperluas kesempatan berusaha. Apalagi di masa pandemik Covid-19. Sektor Pertanian telah menjadi juru selamat prekonomian nasional yang terus tumbuh hingga 14.05%.
“Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mampu bertahan dari hantaman pandemi Covid-19, di mana ekspor pada tahun 2020 mencapai 451,8 triliun atau naik 15,79 persen jika dibandingkan tahun 2019 yang hanya 390,6 triliun,” ujar Presiden saat membuka Merdeka Ekspor 2021. 

Presiden mengatakan, ekspor pertanian pada semester pertama tahun 2021, yakni dari Januari sampai Juli juga cukup membanggakan, yaitu mencapai 282,86 triliun, jika dibandingkan periode yang sama tahun 2020 yang hanya 202,05 triliun.   Peningkatan ekspor pertanian, kata Presiden, juga dinilai cukup memuaskan karena sejauh ini mampu berdampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan. Hal ini bisa dilihat dari angka Nilai Tukar Petani (NTP) nasional yang mencapai 99,60 pada Juni 2020 dan secara konsisten meningkat hingga Desember 2020 sebesar 103,25 serta Juni 2021 mencapai 103,59.

“Ini sebuah kabar yang baik yang bisa memacu semangat petani-petani kita untuk tetap produktif di masa pandemi. Tadi juga disampaikan oleh Pak Menteri (Syahrul Yasin Limpo) bahwa kegiatan ekspor beras sudah dimulai ke Arab Saudi,” katanya.


Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyampaikan terima kasih atas perhatian Kepala Negera terhadap sektor pertanian Indonesia, terutama dalam mendukung kegiatan Merdeka Ekspor di 17 Pintu ekspor yang memiliki nilai devisa 7,2 triliun.

Kementan menjalankan program KUR (Kredit Usaha Rakyat), kemudian akselerasi ekspor melalui Geratieks (gerakan tiga kali ekspor) yang mengakomodir semua pelaku usaha untuk membuka peluang lapangan kerja yang bermuara pada ekspor dan kesejahteraan petani.
“Semua program tersebut sudah berjalan dalam koridor yang ada,” katanya.
Sementara itu, konsistennya pertumbuhan sektor pertanian di masa pandemi ini tidak lepas dari kerja dan kolaborasi semua pihak dalam mewujudkan pertanian maju, mandiri dan modern. Kenaikkan NTP, NTUP dan ekspor pertanian adalah bukti bahwa sektor ini menjadi bantalan perekonomian bangsa ditengah pandemi Covid-19.

“Apalagi kebijakan dan intervensi pemerintah dari hulu hingga hilir terus membuahkan hasil positif untuk pertanian dan pangan. Mentan Syahrul Yasin Limpo terus mendorong kebijakan dengan menjaga keseimbangan intervensi program di hulu dan hilir,” tutupnya.
“Sesuai arahan bapak Presiden bahwa investasi dan ekspor merupakan faktor kunci dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional. Sehubungan dengan hal tersebut, kami terus berupaya mendorong ekspor produk pertanian ke berbagai negara,” katanya.

Mentan menjelaskan, kegiatan Merdeka Ekspor merupakan implementasi dari berbagai program yang ada, termasuk program Gerakan Tiga Kali Ekspor (Gratieks) untuk mempercepat ekspor produk pertanian, serta menggerakan provinsi, kabupaten dan kota untuk mengakselerasi ekspor.

Adapun Ekspor yang akan dilepas pada kesempatan ini sebesar 627.399 ton senilai Rp. 7,29 triliun meliputi komoditas perkebunan 564.550 ton, tanaman pangan 4.277 ton, hortikultura 7.230 ton, peternakan 4.013 ton, dan beberapa komoditas lainnya.
Kabar gembira dari Balai Karantina Kelas 1 Provinsi Kalimantan Barat, di sela menjadi narasumber pelatihan kewirausahaan mengungkap bahwa peningkatan ekspor komoditas pertanian sebesar 205% dibanding tahun 2020 yang didominasi produk aneka turunan kelapa sawit (CPO,CCO, sapu lidi, bungkil sawit, minyak goreng, margarin dll), Aneka turunan Kelapa  (Kopra, VCO, santan kelapa, serabut kelapa/FC, Coco fit, sapu lidi dll), sarang walet, arang. 

“Sehingga menjadikan propinsi Kalimantan Barat berada pada peringkat 4 pengekspor komoditas pertanian yang mengalami pertumbuhan terbesar di Indonesia,” ungkap Feri Astuti, narasumber pelatihan kewirausahaan dari Balai Karantina Kelas 1 Provinsi Kalimantan Barat.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Prof Dedi Nursyamsi menyampaikan, petani harus jeli mengembangkan sektor usahanya agar mendapatkan hasil maksimal. 
“Apalagi dengan peluang ekspor yang makin terbuka dan dijangkau oleh petani petani milenial,” selanya.

Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si menyampaikan, petani milenial bagai mutiara mutiara yang siap diasah, asuh dan asih menjadi pengusaha bidang pertanian untuk dapat memanfaatkan peluang ekspor di wilayah Kalimantan Barat.

Yulia pun terus mendorong semangat untuk membangun jejaring ekonomi bersama agar skala usaha petani kompetitif. 
“Saya harap melalui pelatihan ini dapat menjadi kebangkitan petani milenial di wilayah Kalimantan Barat, menindaklanjuti hasil hasil pelatihan kewirausahaan dengan pendampingan tim widyaiswara BBPP Binuang,” pungkasnya.[adv]