Musim Hujan di Kalsel Diperkirakan sampai Januari 2022, Petani Waspada serangan Penyakit Tanaman

Oleh:

Amallia Rosya, S.P ., M. Si.

Widyaiswara Ahli Pertama – Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang

Prakiraan musim hujan 2021/2022 di Kalimantan Selatan diprakirakan dimulai dari pertengahan September 2021 hingga awal November 2021. Wilayah Kalimantan Selatan bagian barat akan lebih dahulu mengalami Awal Musim Hujan (AMH) baru dilanjutkan bagian timur. Sebagian besar maju (lebih awal) daripada normalnya. Sifat Hujan selama Musim Hujan 2021/2022 di sebagian besar daerah diprakirakan Normal (N) dan Atas Normal (AN). Puncak Musim Hujan 2021/2022 diprakirakan umumnya terjadi pada bulan Desember 2021 dan bulan Januari 2022. Hal ini sampaikan Kepala Stasiun Klimatologi Banjarbaru BMKG Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin, Adhitya Prakoso, M. Met. Pada kegiatan Press Release Prakiraan Musim Hujan 2021 Provinsi Kalimantan Selatan secara Online Meeting.

Upaya peningkatan produksi padi terus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memenuhi kecukupan pangan secara nasional. Namun demikian, cekaman lingkungan biotik dan abiotik dengan frekuensi yang semakin meningkat serta dukungan sumberdaya lahan dan air yang telah menurun kualitas dan kuantitasnya, menyebabkan produktivitas padi masih rendah. Perubahan irama iklim yang terjadi semakin sulit diramalkan, kondisi semacam ini secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada perubahan perilaku organisme yang berkembang di pertanaman padi. Ketidaknormalan iklim ini berakibat pula pada meningkatnya gangguan oleh berbagai organisme pada tanaman.

Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama menimbulkan gangguan tanaman secara fisik, dapat disebabkan oleh serangga, tungau, vertebrata, moluska. Sedangkan penyakit menimbulkan gangguan fisiologis pada tanaman, disebabkan oleh cendawan, bakteri, fitoplasma, virus, viroid, nematoda dan tumbuhan tingkat tinggi. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim.

Konsep ini berawal dari Ilmu Penyakit Tumbuhan, namun juga dapat diterapkan pada bidang ilmu hama. Pada dasarnya penyakit hanya dapat terjadi jika ketiga faktor yaitu patogen, inang dan lingkungan mendukung. Inang dalam keadaan rentan, patogen bersifat virulen (daya infeksi tinggi) dan jumlah yang cukup, serta lingkungan yang mendukung. Lingkungan berupa komponen lingkungan fisik (suhu, kelembaban, cahaya) maupun biotik (musuh alami, organisme kompetitor). Dari konsep tersebut jelas sekali bahwa perubahan salah satu komponen akan berpengaruh terhadap intensitas penyakit yang muncul.

Dari konsep segitiga penyakit tampak jelas bahwa iklim sebagai faktor lingkungan fisik sangat berpengaruh terhadap proses timbulnya penyakit. Pengaruh faktor iklim terhadap patogen bisa terhadap siklus hidup patogen, virulensi (daya infeksi), penularan, dan reproduksi patogen. Pengaruh perubahan iklim akan sangat spesifik untuk masing masing penyakit. Garret et al. (2006) menyatakan bahwa perubahan iklim berpengaruh terhadap penyakit melalui pengaruhnya pada tingkat genom, seluler, proses fisiologi tanaman dan patogen.

Petani Kalimantan Selatan harus waspadai kondisi iklim, harus ada langkah antisipasi serangan penyakit. Perlunya monitoring opt dilahan-lahan persawaha, tanaman sayuran bahkan buah-buahan. Perlunya kolaborasi antara penyuluh dan petani serta dukungan Stekholder di Bidang pertanian, untuk menentukan langkah preventif sebelum meningkatkan serangan OPT Tanaman. (Amallia Rosya)