MEMAHAMI PROSES DAUR HIDROLOGI

Oleh :
AMAN NURRAHMAN KAHFI
Widyaiswara Ahli Pertama

Semenjak musim hujan datang, air hujan selalu menjadi topik yang hangat dibicarakan karena beberapa tempat mengalami kebanjiran dan berbagai bencana lain yang dimulai dari datangnya hujan dengan intensitas tinggi, seperti longsor dan banjir bandang. Demikian juga beberapa bulan lalu ketika dalam musim kemarau, topik yang dibicarakan sama yaitu air karena beberapa lokasi mengalami kekeringan dan kelangkaan air. Dua fenomena ini sebenarnya pangkalnya ada ketersediaan air. Sederhananya adalah menjawab pertanyaan ini “bagaimana menyimpan kelebihan air saat musim hujan (agar tidak terjadi banjir) untuk dimanfaatkan di musim kemarau (agar tidak mengalami kekeringan). Jika digrafikkan seperti gambar berikut :

Grafik di atas hanya sebuah contoh kasus yang menunjukkan bahwa ketebalan hujan di kebanyakan tempat di Indonesia pada umumnya tidak merata sepanjang tahun. Hal ini ditunjukkannya 2 puncak yang saling bertolak belakang yaitu puncak hujan dan puncak kemarau. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir dua puncak tersebut bergeser dan lebih ekstrim. Garis biru menunjukkan ketebalan hujan saat ini, sedangkan garis merah menunjukkan ketersediaan air yang dikehendaki. Oleh karena itu perlu ada rekayasa sehingga ketersediaan air tidak seekstrim garis biru, atau katakanlah seperti garis merah. Meningkatkan ketersediaan air di musim kemarau, dan mengurangi kelebihan air di musim hujan.

Ketersediaan air yang dikehendaki misalnya seperti garis merah, bukan berarti sama sekali menghendaki tetap sepanjang tahun karena keniscayaan adanya dua musim di Indonesia yaitu musim hujan dan musim kemarau merupakan fakta alam. Upaya untuk memperkecil selisih antara puncak kemarau dan puncak hujan terletak pada pemahaman karakteristik siklus air yaitu daur hidrologi. Perlu diketahui dan diingat bahwa jumlah dan volume air di bumi ini tetap. Hanya saja bentuk, sifat dan persebarannya yang bermacam-macam selain kualitas air yang berubah dari waktu ke waktu. Gambar di bawah ini menunjukkan komposisi kuantitas air yang berada di Bumi kita. Hanya sekitar 2,4% jumlah air tawar dari total keseluruhan air yang ada di Bumi, dan hanya 22% dari 2,4% jumlah air yang bisa dikatakan sering dimanfaatkan oleh makhluk hidup termasuk di dalamnya hewan dan tumbuhan.

Daur hidrologi secara ringkas merupakan proses perjalanan air dari laut menuju atmosfer kemudian ke tanah dan kembali ke laut. Proses ini tidak akan berhenti kecuali sementara karena ter”delay” di atas permukaan tanah dalam bentuk sungai, waduk, dam dan lainnya yang dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup. Selama daur hidrologi inilah, air dapat berubah bentuk dan sifatnya. Sedangkan pemanfaatan oleh manusia menyebabkan air berubah kualitasnya. Daur hidrologi dapat dilihat pada gambar 

Panas matahari dan anasir iklim lainnya mempengaruhi proses evaporasi pada permukaan bumi baik yang berupa vegetasi, air maupun tanah. Uap air akan terkumpul, terkondensasi dan terbawa oleh angin menuju daratan. Adanya anasir-anasir iklim di atmosfer akan menyebabkan kodensat turun sebagai hujan. Air hujan akan turun langsung ke laut, di permukaan tanah, di atas permukaan air, dan di permukaan vegetasi (interception). Air yang turun di permukaan tanah akan mengalami dua kemungkinan lain selain mengalami evaporasi langsung yaitu langsung menjadi aliran permukaan (direct runoff) atau masuk ke dalam tanah (infiltration). Sebagian air akan tertahan pada cekungan-cekungan alamiah (detention storage) sehingga membentuk danau, ledok atau cekungan alamiah lainnya. Sebagian air yang masuk ke sungai akan menuju ke laut, dan sebagian mengalamii evaporasi. Air yang masuk ke dalam tanah sebagian akan kembali ke permukaan tanah (subsurface flow) terakumulasi bersama air sungai. Sebagiannya akan diteruskan masuk ke tanah yang lebih dalam (percolation) sehingga membentuk air tanah (groundwater). Air tanah inilah yang dimanfaatkan airnya sebagai sumur (well).

Sepanjang direct runoff mengalir di permukaan tanah menuju tempat yang lebih rendah, akan terakumulasi dengan subsurface flow menjadi sejumlah aliran permukaan (surface runoff). Sehingga akumulasi yang besar jika tertahan pada daerah cekungan atau terdelay melewati sungai, maka akan menimbulkan banjir. Oleh karena itu, jika permukaan tanah terbuka (tidak tertutup oleh beton, jalan, bangunan dan lainnya) akan meningkatkan serapan tanah terhadap air (infiltrasi dan perkolasi). Hal ini akan menghambat terakumulasinya air di daerah cekungan. Sebaliknya jika permukaan tanah tertutup oleh beton, bangunan, jalan, semen dan penutup lainnya akan mengakibatkan air hujan yang turun di atas permukaan tanah tidak bisa diserap optimal oleh tanah, tetapi justru akan dengan segera dialirkan menuju tempat yang lebih rendah.

Pengisian tanah yang optimal oleh air hujan akan meningkatkan simpanan air tanah sehingga ketika kemarau datang, sumur masih menyediakan air yang jernih. Maka perilaku yang positif untuk melakukan konservasi air adalah dengan membuka penutup-penutup permukaan tanah, membuat sumur resapan, biopori, dan memperbanyak vegetasi. Jika air hujan tidak sempat masuk ke dalam tanah, atau justru dialirkan segera ke tempat yang lebih rendah maka kemungkinan terjadi banjir di darah hilir pada saat itu dan kemungkinan keterbatasan cadangan air tanah pada musim kemarau.

Air hujan adalah bentuk anugrah luar biasa yang perlu kita syukuri dengan cara disimpan (conserve) dan ditahan (delay) agar tetap tersimpan di dalam tanah sebagai fresh water yang jumlahnya hanya 2,4%. Kita tidak perlu melakukan destilasi atau proses kimia lainnya. Beda halnya jika air hujan dipaksa segera ke laut agar terakumulasi bersama lebih dari 97% jumlah air di Bumi. Maka pasti usaha kita akan sangat menghabiskan biaya yang sangat besar hanya untuk mendapatkan segelas air tawar. Oleh karena itu, daur hidrologi perlu kita pahami untuk bersikap dan menjamin hak-hak alam sebagai kesatuan ekosistem.