Kementan RI Bekali Skil dan Jiwa Wirausaha Pelaku Agribisnis Porang

SELAMA tiga hari, sejak 22 hingga 24 Oktober 2021, Kementerian Pertanian Kementan RI melaksanakan Pelatihan Teknis Budidaya dan Kelayakan Usaha Porang angkatan ke-31 bagi petani dan penyuluh di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah.
Pelatihan ini diikuti 30 peserta dan akan dilanjutkan konsultasi teknis secara online selesai pelatihan melalui WA Group Budidaya dan Kelayakan Usaha Porang yang di-link-kan sekaligus pada WA Group Assosiasi Petani Porang Kabupaten Kotawaringin Barat (Appokat).

Di akhir acara diinisiasi pembentukkan Appokat, sebagai wadah satu pintu pelaku porang di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Acara dipandu oleh widyaiswara BBPP Binuang, Budiono. Pelatihan ini turut menghadirkan praktisi sebagai narasumber I Wayan Supadma, pelaku agrobisnis yang sukses setelah purna dari TNI.
Menurut Budiono yang juga Penanggung Jawab Pelatihan mengatakan, kegiatan pelatihan merupakan salah satu komponen membangun sistem agribisnis porang.
“Juga menjadi pondasi sumber daya manusia yang terampil, berkarakter wirausaha dan berpengetahuan yang memadai tentu akan sangat diperlukan dalam kompetisi di pasar global,” tambahnya.

Dalam sambutannya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan bahwa ini adalah forum yang cukup besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Ini adalah Forum yang cukup besar, karena jumlah yang kita lepas hari ini jumlahnya adalah 1,2 triliun di 52 pintu,” kata Menteri Pertanian. 
Menurutnya, ini adalah hal yang luar biasa. Untuk pertama kali, Mentan itu jalan bersama Menteri BUMN dan Mendag. Ini belum pernah terjadi.

Menghadapi pandemi Covid-19 dengan berbagai dampaknya tidak bisa satu dari sektor saja, tidak bisa oleh satu menteri saja. Harus ada kerja sama, saling mendukung untuk kepentingan bangsa dan negara.
Lebih lanjut Mentan menegaskan bahwa jika Pertanian main di hulu, Perdagangan harus main di hilirnya, di tengah-tengahnya ada BUMN. 
“Kalau ini main semua, akselerasi yang digagas oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa akan jalan lebih kuat,” imbuhnya.

Ia menambahkan, di pertanian ada budidaya, ada pasca panen, ada pengolahan, tetapi di ujungnya tidak akan punya arti kalau pasarnya tidak di”create” lebih kuat. 
“Inilah makna dari tiga menteri melakukan kunjungan ke Jawa Timur. Dan ini harus diikuti oleh daerah-daerah lain di Indonesia,” tegasnya.
Pelepasan ekspor komoditas pertanian di Teluk Lamong sendiri senilai Rp140 miliar. Komoditas pertanian yang dilepas meliputi sub sektor peternakan, hortikultura, perkebunan, maupun tanaman pangan dengan negara tujuan Amerika Serikat, Hong Kong, Timor Leste, Jerman, Brunei Darussalam, Thailand, Tiongkok, Vietnam, Korea Selatan, Mesir, Singapura, dan Bangladesh. 
Komoditas pertanian unggulan Jawa Timur seperti kakao, kopi, kelapa, porang, dan produk-produk olahan lainnya diharapkan menjadi bagian penting untuk bisa mendatangkan devisa, sekaligus mendorong penguatan pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Prof. Dedi Nursyamsi menyampaikan, petani harus jeli mengembangkan sektor usahanya agar mendapatkan hasil optimal.

“Sektor pertanian merupakan sektor yang terus tumbuh positif dimasa pandemi. Saya berharap pemuda mampu memanfaatkannya menjadi peluang usaha, dan menjadi petani milenial yang tidak hanya andal dari segi teknis, melainkan juga di bidang wirausaha dan pemasaran, tak ketinggalan produk olahan porang,” paparnya.
Selanjutnya Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati, M.Si menyampaikan, petani milenial di daerah harus mampu menjadi motor penggerak bagi revolusi pertanian berbasis IT, lakukan penetrasi untuk membangun jejaring ekonomi bersama dengan mengembangan BUMP. 
“Saya harap melalui pelatihan ini dapat menjadi kebangkitan petani milenial di wilayah Kalimantan Tengah,sekaligus meningkatkan nilai tamabah dari umbi porang untuk menjaga stabilitas harga dan jaminan pasar,” pungkasnya.[advertorial]