Biochar Sekam Padi Pembenah Tanah Yang Melimpah

Adi Widiyanto
Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang – Kementerian Pertanian
Widyaiswara Muda

Pada umumnya lahan kering yang sudah dibudidayakan telah mengalami penurunan kualitas lahan atau telah terdegradasi akibat pengelolaan yang tidak tepat. Penggunaan pupuk anorganik dan pestisida kimia  yang tidak berimbang telah memberikan dampak negatif bagi kesuburan tanah, diantaranya kekompakan tanah, BD yang tinggi, porositas rendah, kandungan bahan organik rendah, KTK rendah, ketersediaan hara rendah, serta terjadinya ledakan hama akibat hilangnya musuh alami sehingga tanah menjadi tidak sehat bagi pertumbuhan tanaman.

Untuk meningkatkan kembali produktivitas lahan kering diperlukan tindakan rehabilitasi dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah tersedia (sumberdaya lokal). Penggunaan pembenah tanah seperti skim lateks, pupuk kandang/kompos, biomas Flemingia congesta dan sisa tanaman sudah lama dikenal dan diketahui masyarakat berfungsi cukup baik dalam memperbaiki struktur tanah. Namun kelemahannya adalah dibutuhkan jumlah yang cukup besar dan kontinyu, sehingga pengadaan bahan tersebut dan transportasinya ke lahan mengalami kesulitan.

Di Indonesia, limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk pembenah tanah cukup banyak tersedia, baik di lahan sawah maupun lahan kering. Limbah pertanian terdiri atas 2 jenis yaitu 1) bahan yang mudah terdekomposisi seperti jerami, batang jagung, limbah sayuran dan 2) bahan yang sulit terdekomposisi seperti sekam padi, kulit buah kakao, kayu-kayuan, tempurung kelapa, tempurung kelapa sawit, dan tongkol jagung. Limbah pertanian tersebut saat ini belum dimanfaatkan dengan baik untuk memperbaiki kualitas tanah. Pemanfaatan limbah pertanian khususnya yang sulit terdekompoisisi tersebut dapat dilakukan dengan terlebih dahulu dikonversi menjadi biochar (arang) melalui proses pembakaran tidak sempurna (pyrolisis).

Download PDF