BBPP Binuang Gelar Wisatani Sesi 44, Rencanakan Usaha Agroindustri

Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang kembali melaksanakan kegiatan pelatihan online yang dikemas melalui program Wisatani alias Widyaiswara Sapa Petani.

Kegiatan Wisatani kali ini merupakan sesi ke-44 yang dilaksanakan pada 17 Februari 2021 dengan tema “Merencanakan Usaha Agroindustri Pengolahan Hasil Pertanian”.

Penentuan tema tersebut dengan alasan bahwa banyak permasalahan dalam menentukan kegiatan “Pengolahan Hasil Pertanian” khususnya kegiatan yang dilakukan untuk menjadikan usaha (dipasarkan).  

Dengan demikian pada sesi ini tidak secara khusus menyampaikan tentang teknis pengolahan hasil pertanian melainkan kegiatan untuk melakukan usaha/bisnis bidang pengolahan hasil pertanian atau Agroindustri. 

Narasumber pada sesi ini adalah Widyaiswara BBPP Binuang, yaitu Yusuf Rijayanto, MA dan Febtu Arisandi, SP. 

“Bila kita merencanakan usaha berarti kita merencanakan pemasaran. Karena usaha yang akan kita lakukan akan berujung ke pasar dan pasar merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam melakukan sebuah usaha,” tutur Yusuf. 

Menurutnya, produk yang akan dihasilkan harus menjadi kebutuhan konsumen (pasar). Pengertian kebutuhan tersebut bukan hanya jenis produknya saja akan tetapi menyangkut beberapa hal yang berkaitan dengan konsumen tentang produk yang dibutuhkannya. 

“Seperti di antaranya 1) manfaat; 2) selera/rasa; 3) harga; 4) waktu dibutuhkan/penggunaan; 5) kondisi produk (kemasan, warna, ukuran/volume) dan lainnya,” jelasnya.  

Selain itu, lanjutnya, juga faktor lain yang berkenanaan dengan pasar dan pemasaran harus diperhatikan, seperti misalnya : 1) segmen pasar produk kita; 2) pesaing; 3) peluang pasar; 4) pangsa pasar.  

“Dengan mengetahui kebutuhan konsumen/pasar, kita dapat merencanakan kegiatan pengolahan hasil pertanian (agroindustri),” imbuhnya. 

Yusuf menegaskan, kegiatan pengolahan hasil merupakan kegiatan produksi sehingga dalam merencanakannya harus memperhatikan factor-faktor produksi yang dikenal dengan 5 M. 

“5M yaitu; 1) Manusia, sebagai pelaksanan/tenaga kerja; 2) Material, bahan-bahan yang digunakan; 3) Mesin, yang diperlukan dalam proses produksi; 4) Modal, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan biaya dan 5) Manajemen, yang akan memfungsionalisasikan keempat factor tersebut,” paparnya.  

Berikut disusun perencanaannya dengan penerapan fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. 

Selama ini pengolahan hasil yang dilakukan hanya untuk kebutuhan sendiri atau tidak dipasarkan dan bila ada yang sudah melakukan untuk dipasarkan akan tetapi tidak berlanjut karena tidak sesuai kebutuhan pasar, melalui perencanaan yang disusun diharapkan dapat menjadikan usaha yang terus dapat dikembangkan. 

Pada kesempatan itu pula, Febtu Arisandi menyampaikan berbagai contoh produk hasil pengolahan yang berasal dari beberapa komoditas pertanian sebagai bahan baku.  

Disampaikan pula dalam melalukan usaha pengolahan harus memperhatikan aspek lain yaitu diantaranya perizinan usaha.   

“Melalui pelatihan online program Wisatani yang pada sesi ini diikuti oleh 230 orang peserta diharapkan dapat menjadi bahan pencerahan dalam menyampikan kepada para petani atau calon pengusaha bidang pengolahan hasil pertanian,” harapnya.  

Di akhir pelatihan, Yusuf menginformasikan rencana pertemuan berikut akan disampaikan mengenai teknis pengolahan hasil pertanian, pengemasan, pelabelan dan hal-hal lainnya.

Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi dalam kesempatan terpisah berpesan agar pelatihan harus tetap produktif menghasilkan SDM pertanian yang professional, berdaya saing dan berjiwa wirausaha tinggi. 

“Bagaimana caranya? Tentu melalui metode yang berbeda untuk saat ini. Karena saat ini kita masih ada dalam pandemi covid-19, metodenya melalui virtual,” terangnya. 

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, peningkatan kualitas SDM adalah hal yang penting. 

“SDM pertanian di masa depan harus diisi dengan yang berkualitas. Harus muncul petani-petani milenial yang akan memberikan kemajuan dan inovasi untuk pertanian di Tanah Air. Oleh karena itu, regenerasi petani harus mulai dilakukan,” pungkasnya.