PENANGANAN LIMBAH BAGLOG JAMUR TIRAM UNTUK MENGURANGI PENCEMARAN LINGKUNGAN

oleh

INTAN KURNIANINGRUM, S.P., M.T.P

Widyaiswara Ahli Pertama

Baglog adalah media tanam jamur tiram yang biasanya menggunakan plastic tahan panas sebagai wadahnya. Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan baglog jamur ini adalah serbuk gergaji, Jerami padi, sekam, kapur, dan bahan tambahan lainnya yang berfungsi sebagai nutrisi jamur. Jamur tiram merupakan salah satu jamur yang sudah banyak dibudidayakan oleh pelaku usaha dari skala kecil, sedang, hingga besar. Selain karena mempunyai prospek yang menjanjikan dan banyak diminati dikarenakan masyarakat sudah mulai sadar akan kandungan  nilai gizi dari jamur tiram tersebut.

Permasalah yang timbul dari budidaya jamur tiram ini adalah adanya limbah baglog jamur. Limbah baglog jamur adalah baglog yang sudah tidak bisa lagi digunakan sebagai media jamur. Baglog yang dibiarkan menumpuk akan menimbulkan bau yang tidak sedap, sehingga menimbulkan polusi udara yang dapat mencemari lingkungan. Selain itu, juga menyebabkan sumber kontaminan yang dapat menyebabkan kegagalan dalam budidaya jamur. Terdapat dua macam baglog yang berpotensi menjadi limbah lingkungan, yaitu baglog tua dan baglog kontaminasi. Baglog tua merupakan baglog yang sudah tidak produktif lagu atau sudah tidak menghasilkan jamur. Sedangkan baglog kontaminas yaitu baglog yang terkontaminasi jamur lain sehingga harus segera dipisahkan dari kubung jamur agar tidak mengkontaminasi baglog lainnya.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan solusi-solusi guna mengurangi pencemaran lingkungan diantaranya dimanfaatkan sebagai berikut

a. Pupuk kompos

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sulaeman (2011), limbag baglog jamur mengandung unsur hara seperti fosfor (0,7%), Kalium (0,02%), N-total (0,6%) dan C-organik (49%), dan kalsium sehingga baik untuk dijadikan pupuk kompos. Adanya fosfor dan kalium disebabkan karena proses pembuatan kompos media tanam jamur dilakukan penambahan kapur. Keuntungan yang diperoleh dari limbah media tanam jamur tiramm ini adalah terjadi peningkatan unsur organik dalam tanah yang dapat memperbaiki struktur dan kesuburan tanah.

b. Briket

Briket adalah sebuah blok bahan bakar yang dapat dibakar untuk mempertahan nyala api. Briket yang bereda umum dipasaran untuk saat ini terbuat dari arang, batu bara, gambut, dan biomassa. Baglog jamur tiram dapat dimanfaatkan sebagai briket dikarenakan adanya bahan serbuk kayu yang mengandung lignin dan selulosa yang cukup banyak. Diketahui bahwa briket baglog jamur tiram mempunyai nilai kalor yang dihasilkan sebesar 3306 kal/gr pada tekanan kempa pencetakan 100 gr/cm2 (Yuniarti dkk., 2011).

c. Polybag

Salah satu bagian dari limbah media tanam jamur adalah plastic PP (polypropylene). Plastik tersebut tidak dapat hancur dengan mudah sehingga untuk mengurangi limbah plastic adalah mengalih fungsikan plastic tersebut menjadi polybag. Polybag tersebut dapat digunakan sebagai tempat untuk menanam bunga ataupun tanaman lain seperti cabai, tomat, sawi, dan sebagainya.

d. Karbon (arang)

Limbah baglog dapat juga dijadikan karbon dengan cara di bakar. Serbuk media tanam dibakar untuk dijadikan arang. Sifat dari karbon adalah basa, sehingga hal ini dapat dijadikan sebagai bahan untuk menetralkan tanah yang memiliki kadar keasaman yang cukup tinggi. Untuk abu sisa dari pembakaran ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.

e. Media Budidaya Cacing

Pemanfaatan limbah baglog jamur tiram yang lain adalah dijadikan sebagai media budidaya cacing. Baglog jamur tiram ini sebagai bahan campuran, sehingga dapat meminimalisir angka penumpukan limbah baglog jamur

https://www.jatayutm.com/

Referensi

Sulaeman, D. (2011). Efek Kompos Limbah Baglog Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreanus Jacquin) Terhadap Sifat Fisik Tanah Serta Tumbuhan Bibit Markisa Kuning (Passiflora Edulis Var. Flavicarppa Degner). Skripsi. Bogir: Institut Pertanian Bogor

Yuniarti, Y. P., Theo, Y., Faizal., & Arhamsyah, 2011. Briket Arang dari Serbuk GErgajian Kayu Meranti dan Kayu Galam. J. Ris. Ind. Has. Hutan, 3(2), 38–43