Kementan Ajak Poktan Produksi Pupuk Organik sebagai Peluang Bisnis

Tapin, Kalsel – Petani dan penyuluh diharap tidak panik maupun berunjuk rasa atas kelangkaan pupuk bersubsidi, gunakan pupuk organik sebagai substitusi pupuk kimia [anorganik]. Bahan baku pupuk organik tersedia di sekitar kita, proses pembuatannya tergolong mudah dan sederhana, sehingga dapat menjadi peluang bisnis bagi kelompok tani [Poktan] dan Gapoktan.

Ajakan dari Kementerian Pertanian RI tersebut dikemukakan Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati saat menutup Bertani on Cloud [BoC] belum lama ini, yang mengulas topik ´Cara Mudah Membuat Pupuk NPK Organik – Solusi Mahal dan Kelangkaan Pupuk´ digelar oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian [BBPP] Binuang.

“Dari webinar BoC ini diharapkan petani tidak lagi panik atas kelangkaan pupuk, tidak terlalu banyak berharap pada pupuk bersubsidi. Kita ubah mindset bahwa untuk mendapat pupuk, karena bahan baku pupuk organik ada di sekitar kita. Teknologinya mudah diterapkan, dan ini bisa menjadi peluang bisnis,” kata Yulia AK via daring.

Dia mengapresiasi dukungan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan [BPPSDMP] Dedi Nursyamsi opening speech webinar BoC yang diikuti oleh 500 partisipan dari seluruh Indonesia.

“Sebagai ahli pupuk, banyak pengetahuan dan wawasan tentang pemupukan berimbang, terima kasih pula pada Kapuslat Leli Nuryati yang memfasilitasi kegiatan BoC bekerjasama dengan tim teknis BBPP Binuang,” kata Kabalai Yulia AK.

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo kerapkali  mengingatkan bahwa pertanian harus terus bergerak, maju, mandiri, modern, dan mampu menyediakan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia.

“Tak terkecuali kegiatan pelatihan online BoC, yang menunjukkan bahwa seluruh insan pertanian terus bergerak, termasuk kegiatan melatih petani, penyuluh, praktisi pertanian, UMKM, dan individu pelaku usaha pertanian,” kata Mentan.

Sementara Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi saat membuka BoC tersebut mengapresiasi webinar oleh BBPP Binuang bagi bagi petani dan penyuluh di seluruh Kalimantan melalui BoC volume 170 terkait pupuk organik, pupuk anorganik dan pemupukan berimbang.

“Saya apresiasi BoC oleh BBPP Binuang untuk memberi  wawasan dan pengetahuan petani tentang jenis-jenis pupuk,” katanya.

Kepala BBPP Binuang, Yulia Asni Kurniawati berharap Poktan dan Gapoktan memanfaatkan potensi di sekitar kita, mengembangkan pupuk organik maupun pestisida nabati organik untuk menekan biaya produksi dari mahalnya harga pupuk.

“Semoga webinar BOC ini dapat menjadi solusi dan tidak ada lagi petani yang unjuk rasa karena menuntut adanya pupuk bersubsidi,” kata Yulia AK yang belum lama ini meraih award dari BPPSDMP Kementan sebagai Kepala UPT Kementan kategori Terinspiratif pada Rabu malam [30/3].

Substitusi Pupuk Kimia
Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi pada webinar BoC tersebut mengelaborasi tentang sumber nitrogen dan fosfor tersedia di lahan pertanian dan peternakan, dengan memanfaatkan pupuk kandang dari kotoran sapi, domba dan kerbau, karena tinggi kadar N dan P-nya.

Kementan, menurutnya, berulangkali mengingatkan petani dan penyuluh untuk ´tidak kecanduan´ pupuk kimia [anorganik] lantaran bahan baku harus impor dan harga melambung terdampak pandemi dan perubahan iklim.

Sumber nitrogen lain adalah sisa hasil panen tanaman famili leguminose seperti lamtoro, kedelai dan koro pedang sebagai bahan baku pupuk urea organik.

“Bagaimana unsur hara kalium? Jerami sisa panen padi, kadar K-nya sampai 0,2 persen. Kalau hasil panen padi enam ton per hektar, bobot jeraminya sama, hasilnya minimal 50 kg KCL per hektar, cukup untuk satu hektar sawah per musim, nggak perlu pupuk kimia KCL,” kata Dedi Nursyamsi,

Menurutnya, kotoran unggas seperti ayam, kadar kaliumnya juga tinggi, “tanaman hortikultura kalau dikasih pupuk dari kotoran unggas akan tumbuh subur tak ubahnya pemupukan dengan pupuk kimia KCL.”

“Kelapa sawit menyimpan potensi unsur kalium di tandan kosongnya, jangan dibuang. Kalau dibuang, sama dengan bakar duit. Mari kita bikin sendiri pupuk organik. Kalau kita terbiasa, pabrik pupuk tak perlu impor batuan fosfat dari Maroko dan Tunisia untuk bahan bakunya,” katanya. [Budiono/Agus]