Tepung Biji Karet Sumber Pakan Alternatif Bagi Ternak

Oleh:

Intan Kurnianingrum, S.P., M.T.P

Widyaiswara Ahli Pertama – Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang

Indonesia termasuk salah satu negara penghasil karet terbesar di dunia. Berdasar data dari Kementerian Pertanian, 2019 menunjukkan Provinsi Kalimantan Barat menempati urutan ke 5 dengan produksi 275.937 ton, sedangkan urutan ke 6 ditempati Provinsi Kalimantan Selatan dengan produksi 193.341 ton. Hal ini dapat dikatakan bahwa Pulau Kalimantan termasuk penyumbang yang banyak. Pada saat ini pohon karet yang dimanfaatkan hanyalah getahnya saja. Sedangan buah karet belum banyak dimanfaatkan dan sebagian kecil digunakan sebagai bibit. Adapun penyebabnya adalah kandungan HCN (asam sianida) sebanyak 330 mg/100g dan zat anti nutrient seperti saponin, tripsin inhibitor, fitat, dan tannin. Kandungan asam sianida yang besar akan berbahaya apabila dikonsumsi oleh ternak. HCN bersifat toksik dan dapat dihilangkan secara fisik yaitu dengan perendaman, fermentasi, dan pengukusan.

Cara perendaman dapat menghilangkan HCN karena sifat HCN yang mudah larut dalam air. Perendaman dapat dilakukan selama 24 jam, dimana air perendaman diganti beberapa kali. Penggunaan cara fermentasi merupakan salah satu cara juga untuk menurunkan kandungan HCN dan memperbaiki nilai gizi dari biji karet. Ragi yang digunakan dapat menggunakan ragi tape atau ragi tempe sebanyak 3 % dari berat biji karet. Cara pengukusan dapat dilakukan pada suhu 100 derajat celcius selama 6 jam, selanjutnya dilakukan penjemuran selama 12 jam di bawah sinar matahari.

Kandungan nutrisi pada biji karet yaitu protein 17%, lemak 32,3 %, karbohidrat 15,9%, air 9,1% dan abu 3,96% (Ly dan Phiny, 2001). Dengan adanya kandungan protein kasar yang tinggi, maka tepung biji karet potensial apabil dimanfaatkan sebagai konsentrat pada pakan ternak.

Pembuatan tepung biji karet dengan cara memecahkan kulit biji karet. Kemudian daging biji karet direbus selama 45 menit dan dilakukan perendaman selama 72 jam dengan penggantian air setiap 6 jam sekali. Perendaman tersebut bertujuan untuk menghilangkan kadar HCN pada daging biji karet (Syamsunarno & Sunanrno, 2014). Untuk mengurangi kadar air pada daging biji karet, selanjutnya daging biji karet tersebut dijemur dibawah sinar matahari. Setelah kering daging biji karet digiling sehingga dihasilkan tepung biji karet. Tepung biji karet yang sudah ditimbang diaduk rata dengan ransum .Tepung biji karet sebagai campuran pakan ternak besar sebesar 30% dapat meningkatkan pertumbuhan bobot badan ternak, daya cerna pada ternak menjadi lebih mudah. Pada ternak ayam petelur maksimal tepung biji karet yang diberikan pada campuran pakan maksimal sebesar 20%, apabila berlebih akan menurunkan bobot telur dan kerabang telur menjadi tipis.