POTENSI BAHAN-BAHAN ALAMI SEBAGAI ZAT PENGATUR TUMBUH

OLEH:

AMALLIA ROSYA, S.P., M.Si dan INTAN KURNIANINGRUM, S.P, M.T.P

Zat pengatur tumbuh (ZPT) adalah senyawa organik yang mengatur proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. ZPT biasanya aktif dalam konsentrasi kecil dan dapat diproduksi dalam tanaman itu sendiri (endogenous). Selain itu, ZPT juga dapat meningkatkan aktivitas fisiologis tanaman, sehingga dapat mempertinggi efisiensi penggunaan energi surya dan unsur hara. Ada beberapa jenis ZPT seperti auksin, giberelin, sitokinin, asam absisat dan etilen (Upreti dan Sharma, 2016). Auksin, sitokinin, dan giberelin termasuk termasuk hormon yang mempunyai sifat positif bagi pertumbuhan tanaman pada konsentrasi fisiologis. Hormon etilen dapat mendukung maupun menghambat pertumbuhan sedangkan hormon asam absisat merupakan merupakan penghambat bagi pertumbuhan tanaman.

ZPT tidak sama dengan pupuk karena tidak memberikan hara kepada tanaman. Pupuk berperan dalam pertumbuhan tanaman sedangakan hormon menentukan kualitas dari pertumbuhan dan perkembangan (Djamal, 2012). Pengaplikasian hormon yang tepat, baik dari segi komposisi dan konsentrasi dapat mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman apapun.

Sumber ZPT ada yang berasal dari tumbuhan itu sendiri (endogen) dan dapat berasal dari luar tumbuhan (eksogen). ZPT dari luar didapatkan bisa secara alami ataupun sintetis. Zat pengatur tumbuh alami berasal dari bahan-bahan organic yang terdapat disekitar kita dengan harga murah dan mudah didapat, seperti air kelapa, urin sapi, ekstrasi bagian tanaman, dan lain-lain. ZPT sintetis berupa produk pabrikan hasil sintesa manusia dengan memastikan rumus kimianya. Keuntungan dari penggunaan ZPT sintetis adalah kemudahan penggunaan dalam dosis yang tepat namun harga mahal. Kelemahan dari ZPT alami yaitu kondisi yang bervariasi akibat pengaruh dari lingkungan maupun fisiologis.

Keterangan gambar : Praktek pembuatan zpt pada pelatihan non aparatur di bpp seruyan hilir

Bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai ZPT alami diantaranya sebagai berikut:

1.Air Kelapa

Air kelapa adalah bahan alami yang mempunyai aktivitas sitokinin untuk pembelahan sel dan mendorong pembentukan organ. Air kelapa mengandung hormon sitokinin dan auksin efek yang akan diberikan adalah dapat meningkatkan  beberapa parameter pertumbuhan setek batang jati. Air kelapa muda mengandung hormon sitokinin 5,8 g L-1 yang dapat merangsang pertumbuhan tunas dan mengaktifkan kegiatan sel hidup, hormon auksin 0,07 mg L-1 dan sedikit giberelin serta senyawa lain yang dapat menstimulasi pertumbuhan tanaman (Bey et al., 2006).

Air kelapa selain mengandung hormon tumbuh auksin dan siotokinin, juga mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Ketersediaan nutrisi bagi tanaman sangat penting untuk proses pertumbuhan. Dengan adanya unsur kalium (K) yang tinggi, maka air kelapa dapat merangsang pertumbuhan dengan cepat. Volume air kelapa yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman sawi (Brassica juncea L.) yaitu volume 250 ml pada parameter tinggi tanaman dan jumlah daun. Air kelapa diaplikasikan dengan melakukan penyiraman setiap seminggu sekali pada sore hari (Tiwery, 2014).

Pengaruh air kelapa juga dibuktikan melalui penelitian Ratnawati et al., (2013) yang menunjukkan bahwa perlakuan perendaman selama 18 jam memberikan hasil tinggi tanaman kakao yang lebih baik, hal ini dikarenakan adanya hormon tumbuh yang lebih baik sehingga lebih efektif memacu pemanjangan dan perkembangan tanaman dan menyebabkan tanaman menjadi lebih tinggi.

2. Bawang Merah

Kandungan Bawang merah diantaranya air, kalori, protein, lemak, karbohidrat, serat, kalsium, fosfor, dan besi. Bagian yang dimanfaatkan sebagai zat pengatur tumbuh alami adalah umbinya. Bawang merah menghasilkan hormon auksin alami yaitu indole acetic acid (IAA) yang dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan sel (Heddy, 1990).

Penelitian Roni (2017) menyatakan bahwa pemberian ekstrak bawang merah dengan cara direndam memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan akar stek tanaman dan panjang akar stek tanaman kaca piring. Konsentrasi optimum ekstrak bawang merah (Allium cepa L.) yang paling baik digunakan untuk pertumbuhan akar stek tanaman kaca piring (Gardenia jasminoides Ellis.) yaitu pada konsentrasi 1,5%.

3. Rebung Bambu

Rebung bambu merupakan tunas muda dari pohon bambu yang tumbuh dari akar pohon bambu. Rebung tumbuh dibagian pangkal rumpun bambu dan biasanya dipenuhi rambut bambu yang gatal. Morfologi rebung bambu berbentuk kerucut dan warnanya coklat. Kandungan utama didalam rebung bambu mentah adalah air, protein, lemak, glukosa, fosfor, kalsium, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C (Wahanani, 2014). Penelitian Kurniati et al., (2017) ekstrak rebung bambu mengandung giberelin yang dapat berpengaruh baik terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun.

4. Bonggol Pisang

Bonggol pisang dapat digunakan juga sebagai pupuk cair dan sebagai zat pengatur tumbuh alami. Sebagai zat pengatur tumbuh bonggol pisang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Pada penelitian Septari et al., (2013) menyatakan bahwa pemberian ekstrak bonggol pisang dapat meningkatkan tinggi tanaman padi varietas Inpari. Zat pengatur tumbuh pada rebung adalah giberelin.

5. Urin Sapi

Urin sapi mengandung hormon yang sangat lengkap yaitu auksin, giberelin, dan sitokinin. Auksin pada urin sapi terkandung didalam pakan hijauan yang tidak tercerna dalam tubuh sapi dan akhirnya terbuang bersama urin. Kadar urin sapi betina lebih tinggi dibandingkan dengan sapi jantan (Supriadji dan Harsono, 1985).

Berikut cara pembuatan ZPT alami adalah sebagai berikut:

AlatBahan
Gelas ukur ,Timbangan, Blender, Pisau, Saringan, Botol, talenanBawang merah, Rebung, Bonggol pisang, Air kelapa  

Langkah kerja:

  1. Bawang merah/rebung/bonggol pisang ditimbang masing-masing 200 gr
  2. Masing-masing bahan diblender secara terpisah dengan perbandingan bahan dengan air adalah 2 : 5
  3. Hasilnya kemudian disaring untuk diambil ekstraknya, sedangkan ampasnya dapat digunakan sebagai pupuk organic
  4. Ekstrak dari bahan kemudian dimasukkan ke botol  dan didiamkan selama 1 x 24 jam
  5. Aplikasi ZPT diencerkan terlebih dahulu dengan perbandingan 1 : 5, dapat digunakan sebagai seed treatmen maupun dapat digunakan untuk pemeliharaan tanaman hingga fase vagetatif
  6. Penyimpanan ZPT sebaiknya dalam ruangan dingin agar daya simpan lebih lama, sedangkan disimpan dalam kondisi ruang ZPT akan bertahan selama kurang lebih 7 hari atau apabila sudah rusak ditandai dengan bau busuk

REFERENSI

Bey, Y., Syafii W dan Sutrisna. 2006. Pengaruh Pemberian Giberelin (GA3) dan Air Kelapa terhadap Perkecambahan Bahan Biji Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis Bl.) Secara In Vitro. J. Biogenesis 2(2) : 41-46.

Djamal, A. 2012. Pembuatan hormone tumbuhan komersial dan pemanfaatan hormone untuk berbagai tujuan. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2021

Heddy, S. 1990. Hormon Tumbuhan. CV Rajawali Press. Jakarta. hlm : 5-54.

Kurniati, F., T. Sudartini dan D. Hidayat. 2017. Aplikasi Berbagai Bahan Zpt Alami Untuk Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Kemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw). J. Agro 4 (1) : 40-49.

Ratnawati, S. I.Saputra., dan S. Yoseva. 2013. Waktu Perendaman Benih Dengan Air Kelapa Muda terhadap Pertumbuhan Bibit Kakao (Theobroma cacao L.). Universitas Riau. http://download.portal garuda.org/article.ptip%. Diakses tanggal 07 Maret 2020.

Roni, A. 2017. Pengaruh Bawang Merah (Allium cepa L.) terhadap P ertumbuhan Akar Stek Tanaman Kaca Piring (Gardenia jasminoides Ellis) dan Sumbangsihnya pada Materi Perkembanganbiakan Vegetatif Tumbuhan Kelas IX SMP/MTS. Skripsi. Universitas Islam Negeri Raden Fatah. Palembang.

Tiwery, R.R. 2014. Pengaruh Penggunaan Air Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica juncea L.). J. Biopendix 1 (1) : 83-91.

Upreti, K.K. dan M. Sharma, M. (2016) Role of Plant Growth Regulators in Abiotic Stress Tolerance.In: Rao,N.S. et al. (eds.) Abiotic Stress Physiology of Horticultural Crops. India, pp.19–46. doi:10.1007/978-81-322-2725-0.

Wahanani, D.E. 2014. Pemanfaatan Rebung (Tunas Bambu) menjadi Nugget dengan Penambahan Kunyit Sebagai Pengawet Alami. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta.