PERUBAHAN SISTEM IRIGASI SEDERHANA MENJADI IRIGASI TEKNIS

Oleh:

Aman Nurrahman Kahfi, S.TP., M.Sc.

Widyaiswara Ahli Pertama – Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang

Sistem jaringan  irigasi digolongkan ke dalam irigasi sederhana karena, fasilitas (bangunan) yang ada tidak permanen dan fungsinya masih sangat sederhana sekali. Apabila sistem irigasi tersebut mengambil dari air sungai biasanya bangunan terserbut terbuat dari tumpukan batu dan batang kayu maka membutuhkan perhatian yang sangat tinggi untuk menjaga kelanjutannya.Karenanya kasederhanaannya sistem irigasi ini dapat dikelola oleh sekelompok masyarakat tanpa peranan pemerintah. Didalam kinerja pengolaannya tidak efisien karena keterbatasan alat (fasilitas) maupun tempat ( daerah ) yang terletak didesa. 

Di dalam proyek sederhana,  pembagian air tidak diukur atau diatur, air lebih akan mengalir ke selokan pembuang. Para pemakai air tergabung dalam satu kelompok sosial yang sama. Persediaan air biasanya berlimpah dan kemiringan berkisar antara sedang sampai curam. Oleh karena itu hampir-hampir tidak diperlukan teknik yang sulit untuk pembagian air.

Jaringan irigasi yang masih sederhana itu mudah di organisasi tetapi memiliki kelemahan-kelemahan yang serius. Pertama-tama, ada pemborosan air dan karena pada umumnya jaringan ini terletak di daerah yang tinggi, air yang terbuang itu tidak selalu dapat mencapai daerah rendah yang lebih subur. Kedua, terdapat banyak penyadapan yang memerlukan lebih banyak biaya lagi dari penduduk karena setiap desa membuat jaringan dan pengambilan sendiri-sendiri. Karena bangunan pengelaknya bukan bangunan tetap/permanen, maka umurnya mungkin pendek. Namun jaringan ini masih memiliki beberapa kelemahan antara lain, (1) terjadi pemborosan air karena banyak air yang terbuang, (2) air yang terbuang tidak selalu mencapai lahan di sebelah bawah yang lebih  subur, dan (3) bangunan penyadap bersifat sementara, sehingga tidak mampu bertahan lama. Gambar 1.1 memberikan ilustrasi jaringan irigasi sederhana.

Sistem Irigasi Teknis

Dalam sistem jaringan irigasi  teknis ini bangunannya sudah dibuat lebih lengkap. Sistem jaringan irigasi teknis ini disebut juga manajemen gabungan antara pemerintah dan petani. Karena pemerintah bartanggung jawab didalam sistem jaringan utama dimulai dari bangunan pengambilan sampai dengan saluran tersier sepanjang 50m di hilir bangunan sadap tersier, sedangkan petani bertanggung jawab atas sistem jaringan di dalam petak tersier.

Salah satu teknis prinsip dalam perencanaan jaringan teknis adalah pemisahan antara jaringan irigasi dan jaringan pembuang/pematus. Hal ini berarti bahwa baik saluran irigasi maupun pembuang tetap bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing, dari pangkal hingga ujung. Saluran irigasi mengalirkan air irigasi ke sawah-sawah dan saluran pembuang mengalirkan air lebih dari sawah-sawah ke selokan-selokan pembuang alamiah yang kemudian akan membuangnya ke laut.

Petak tersier menduduki fungsi sentral dalam jaringan irigasi teknis. Sebuah petak tersier terdiri dari sejumlah sawah dengan luas keseluruhan yang umumnya berkisar antara 50-100 Ha. Petak tersier menerima air di suatu tempat dalam jumlah yang sudah diukur dari suatu jaringan pembawa yang diatur oleh Dinas Pengairan. Pembagian air di dalam petak tersier diserahkan kepada para petani. Jaringan saluran tersier dan kuarter mengalirkan air ke sawah. Kelebihan air ditampung di dalam suatu jaringan saluran pembuang tersier dan kuarter dan selanjutnya dialirkan ke jaringan pembuang primer. Jaringan irigasi teknis yang didasarkan pada prinsip-prinsip di atas adalah cara pembagian air yang paling efisien dengan mempertimbangkan waktu-waktu merosotnya persediaan air serta kebutuhan-kebutuhan pertanian. Jaringan teknis memungkinkan dilakukannya pengukuran aliran, pembagian air irigasi dan pembuangan air lebih secara efisien.

Jika petak tersier hanya memperoleh air dari satu tempat saja yaitu jaringan (pembawa) utama, akan memerlukan jumlah bangunan yang lebih sedikit di saluran primer, eksploitasi yang lebih baik dan pemeliharaan yang lebih murah dibandingkan dengan apabila setiap petani diijinkan untuk mengambil sendiri air dari jaringan pembawa. Untuk menghindari kesalahan pengolahan air dalam hal-hal khusus, dibuat sistem gabungan (fungsi saluran irigasi dan pembuang digabung). Walaupun jaringan ini memiliki keuntungan-keuntungan tersendiri, kelemahan-kelemahannya juga amat serius sehingga sistem ini pada umumnya tidak akan diterapkan.

Pembangunan Irigasi Sederhana Menjadi Irigasi Teknis

Pembangunan irigasi baru harus memenuhi ketentuan :

  • Ada sumber air cukup
  • Ada sawah (tadah hujan)
  • Ada Petani
  • Kwalitas air memenuhi
  • Tanah/sawah baik untuk pertanian (padi)
  • Ada Pemasaran hasil produksi

Ada beberapa hal dan tahapan yang harus dipertibangkan dan dilakukan dalam melakukan transformaasi irigasi sederhana menjadi irigasi teknis.

  1. Peran serta pemerintah dan lembaga – lembaga terkait serta kerjasama masyarakat

Perbedaan yang cukup mendasar anatar Irigasi teknis dan Irigasi Sederhana adalah bahwa pada Irigasi Teknis dibutuhkan peranan pemerintah beserta lembaga – lembaga terkait. Tanpa peran pemerintah pembangunan irigasi teknis tidak akan terwujud mengingat pembuatan irigasi ini membutuhkan dana yang sangat besar yang tidak akan mampu dibuat oleh hanya sekelompok petani. Namun peran masyarakat sebagai pemakai fasilitas irigasi ini juga dibutuhkan, sehingga hal utama sebelum melakukan perubahan irigasi sederhana menjadi irigasi teknis ini adalah adanya komunikasi dan kesepakatan antara pemerintah, lembaga – lembaga terkait dan juga para masyarakat sekitar penikmat fasilitas irigasi tersebut.

  • Analisis dampak sosial ekonomi pembangunan irigasi teknis terhadap masyarakat

Pembangunan irigasi sederhana menjadi irigasi teknis pastilah akan membawa berbagai dampak lingkungan baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Sehingga sebelum dilakukan pembangunan, sebaiknya melakukan survey dan analisa kesesuaian bangunan irigasi serta Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) agar dapat meminimalisir dampak negative sekecil – kecilnya dan melakukan pembangunan sebaik – baiknya sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

  • Analisis Ekonomi

Termasuk kedalamnya survey besarnya kerusakan dan survey kekurangan air yang ditujukan untuk mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan irigasi secara tidak langsung yang ditinjau dari segi ekonominya. Yakni perkiraan besarnya kerusakan penghasilan dalam tahun kekurangan air yang dibandingkan dengan tahun yang cukup air menunjukkan kebutuhan irigasi. Besarnya kekurangan air menunjukkan kebutuhan irigasi itu. Harga perkiraannya dapat diperoleh dengan membandingkan besarnya keperluan air  dengan pemberian air yang ada. Pembangunan irigasi teknis ini juga harus berfungsi investasi dan diupayakan keberlanjutannya sehingga didapatkan manfaat sebesar – besarnya dengan tetap mengindahkan keberlanjutannya di masa yang akan datang

  • Penyusunan rancangan irigasi

Rancangan irigasi sederhana yang serba sederhana dan tidak permanen dan mudah rusak dengan efisiensi rendah, sebelum dibangun dan diperbaiki menjadi irigasi teknis yang lebih kokoh, efisien, dan dapat mengairi lahan yang luas haruslah dirancang konstruksi serta perencanaan bangunan yang sesuai. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan direncankan, yaitu:

  1. Survey daerah/wilayah (biasanya pedesaan) beririgasi sederhana

Survey mengenai kondisi daerah itu harus dilakukan untuk menyelidiki sebabnya mengapa daerah yang dirancang itu memerlukan irigasi, periode irigasi dan volume air dalam aspek – aspek teknis dan ekonomis dan bersamaan dengan itu mempersiapkan berbagai data dalam perancangan. Survey itu harus dilaksanakan menurut proses: penentuan secara umum daerah yang akan dirancang, penentuan daerah yang akan disurvey, perbandingan dan pemeriksaan debit sumber air, ukuran –ukuran fasilitasnya, efek ekonomi dan seterusnya berdasarkan hasil survey. 

  • Luas lahan yang akan diairi

Luasnya lahan yang akan diari akan mempengaruhi dalam merencanakan bangunan permanen yang akan dibuat seta banyaknya petak – petak tersier serta mengetahui banyaknya air yang akan dibutuhkan untuk mengairi lahan – lahan ini. Dengan transformasi irigasi sederhana menjadi irigasi teknis, lahan yang semula butuh diari merupakan lahan yang tidak begitu luas ( mengingat kemampuan pengairan luas lahan irigasi sederhana kecil) menjadi dapat merencanakan untuk mengairi lahan yang lebih banyak dan luas yang akan berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat.

  • Kebutuhan air tanaman

Kebutuhan air terdiri dari banyaknya air yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman, evapotranspirasi dan evaporasi dari lapangan dan perlokasi ke dalam tanah. Survey dalamnya kebutuhan air adalah penyelidikan apakah kebutuhan air di daerah yang digunakan tersebut cukup atau tidak.

  • Sumber air

Harus dilakukan survey terhadap ketersediaan air di sumbernya. Termasuk juga lokasi dan jenis sumber air, cara penyaluran air dan letak fasilitas penyalur air. Apakah sumber air yang selama ini dipakai masyarakat pada irigasi sederhana akan cukup bila dibangun irigasi teknis, yang mana luasan daerah yang akan diari juga akan semakin banyak. Dimana pada irigasi sederhana terjadi pemborosan air, pada irigasi teknis ini air yang akan dibagikan ke petak – petak akan diukur debitnya dan juga pengalirannya lebih efisien. Survey sumber air ini juga mempengaruhi untuk pembangunan bangunan utama irigasi.

  • Pembangunan bangunan utama di sumber air

Bangunan utama di sumber air yang pada irigasi sederhana hanya merupakan batu – batu dan pembelok sederhana, pada irigasi teknis akan dipersiapkan bangunan baru yang permanen. Bangunan utama adalah suatu komplek bangunan yang direncanakan dibangun di sepanjang sungai atau aliran air untuk membelokkan air ke saluran irigasi. Bangunan utama dapat mengatur debit dan mengurangi sedimen yang masuk ke saluran irigasi. Bangunan utama terdiri dari: bangunan pengelak dengan peredam energy, pengambilan utama, pintu bilas, kolam olak, kantung lumpur, dan tanggul banjir. Bendungan (weir) berfungsi untuk mengatur atau meninggikan muka air hingga dapat disadap.

  • Pembangunan bangunan pembawa

Jaringan pembawa terdiri dari jaringan utama dan jaringan tersier. Jaringan saluran utama terdiri dari saluran primer dan saluran sekunder. Sedangkan jaringan tersier terdiri dari atas saluran serta saluran kuarter di petak tersier. Dalam saluran tersebut dilengkapi dengan saluran pembagi, bangunan sadap tersier, bangunan bagi sadap dan bok – bok tersier. Bangunan sadap tersebut dapat pula berfungsi sebagai bangunan ukur atau hanya dapat berfungsi sebagai pengatur debit. Dalam saluran primer atau sekunder dilengkapi dengan bangunan pengatur muka dan pada saluran pembawa dengan aliran super kritis dilengkapi bangunan terjun, got miring. Pembangunan jaringan pembawa menjadi bangunan yang lebih kokoh juga harus disesuaikan dengan kontur jaringan sebelumnya dimana terdapat kecuraman yang cukup besar untuk dapat membawa air. Penggunaan saluran terbuka, talang, siphon, terowongan dan seterusnya adalah tergantung dari topografi

  • Perancangan sistem drainase

Pada irigasi sederhana saluran pembawa dan pembuang biasanya bersatu, pada irigasi teknis saluran pembuang dibuat terpisah dan didesain sebaik mungkin agar buangan air irigasi yang biasanya mengandung bahan – bahan kimia sisa pestisida ini dapat dipergunakan lagi dengan harapan dapat menekan besarnya zat – zat terlaur berbahaya di dalamnya.

  • Sistem Monitoring dan Evaluasi

Setelah selesainya pembangunan irigasi teknis ini,  diharapkan kedepannya dilakukan monitoring dan evaluasi sebagai kerangka upaya untuk melestarikan sumber-sumber air, menanggulangi masalah erosi lahan, sedimentasi dan longsoran melalui kegiatan sipil teknis, vegetasi maupun ekonomi, sosial budaya. Bermanfaat juga untuk memantau dan mengevaluasi sejauh mana manfaat pelaksanaan pekerjaan yang sudah dilakukan di kawasan tersebut, sebagai acuan untuk pekerjaan konservasi di lokasi lainnya dan memberikan rekomendasi tindak lanjut terhadap pekerjaan yang telah dilaksanakan