Pengeringan Cabai Sebagai Proses Pengawetan Produk

Febtu Arisandi
Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang
Kementerian Pertanian

Tanaman cabai (Capsicum sp.) berasal dari benua Amerika. Ditemukan pertama kali oleh Christophorus Columbus pada tahun 1490. Saat itu tanaman ini sudah dibudidayakan oleh suku Indian untuk keperluan memasak sejak tahun 7000 SM. Semenjak tahun 1502 tanaman cabai mulai diperkenalkan ke benua lain, dan kini sudah menyebar ke seluruh dunia sebagai salah satu bahan utama masakan.

Cabai merupakan tanaman perdu dari famili terung-terungan (solanaceae). Tanaman cabai diperkirakan memiliki 20 spesies. Di negara tropis tanaman cabai dapat tumbuh baik. Antara lain di Indonesia, dikenal spesies capsicum annum atau cabai merah dan capsicum frutescens atau cabai rawit. Cabai merah sendiri terdiri dari tiga jenis yaitu cabai merah besar (hot beauty), cabai merah semi (hot chilli), dan cabai merah keriting (TM-99, CTH-01, Taro dan Blora F-1).

 Buah cabai dimanfaatkan untuk keperluan masak memasak dan pengobatan. Untuk keperluan memasak, cabai dapat dikonsumsi langsung dalam bentuk sambal, maupun olahan dalam bentuk bubuk kering dan pasta. Dalam industri makanan, cabai juga digunakan sebagai bahan tambahan untuk penyedap dan bumbu, seperti untuk mi instan dan saus, serta untuk menggantikan fungsi lada. Cabai dipercaya dapat memancing selera makan konsumen. Selain untuk makanan, cabai juga digunakan dalam pembuatan minuman ginger beer dengan cara mengekstrak bubuk cabai.

Download PDF