Pemanfaatan Azolla Pinnata Sebagai Bahan Pembuatan Pupuk Organik

Oleh

Intan Kurnianingrum, S.P., M.T.P

Harga pupuk anorganik yang semakin lama semakin tinggi dan dampak lingkungan akibat dari pengaplikasian pupuk N yang berlebihan. Sifat unsur hara N yaitu mudah menguap dan ketika musim penghujan yang lama dapat terjadi pencucian unsur hara N yang ikut terhanyut pada aliran air. Aliran air pada sekitar wilayah tersebut terkontaminasi sehingga air menjadi terkontaminasi. Kontaminasi air oleh unsur hara N pada aliran air mengakibatkan pengaplikasian pupuk N anorganik menjadi tidak efisien dari segi harga dan teknik pengaplikasiannya.

Kekurangan unsur hara nitrogen, tanaman akan menunjukkan gejala seperti batang yang rapuh dan mudah roboh. Sehingga pemupukan menggunakan pupuk nitrogen kepada tanaman harus tetap terpenuhi. Ketersediaan nutrisi yang cukup yang dapat diserap untuk pertumbuhan tanaman, merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil (Sarief, 1998). Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman harus mempunyai kandungan hara yang cukup untuk menunjang proses pertumbuhan tanaman sampai berproduksi, artinya tanah yang digunakan harus subur. Ketersediaan hara dalam tanah sangat dipengaruhi oleh adanya bahan organik. Hakim et al (1986) menyatakan bahwa bahan organik merupakan bahan penting dalam menciptakan kesuburan tanah. Secara garis besar, bahan organik memperbaiki sifat-sifat tanah meliputi sifat fisika, kimia dan biologi tanah.

Solusi yang diusulkan pada permasalahn tersebut adalah mengkombinasikan pupuk N dengan sumber daya alam yang sudah tersedia berupa bahan organic. Bahan organic yang mengandung nitrogen yang banyak maka mikroorganisme tanah menggunakannya untuk hidup. Terkadang mikroorganisme tanah melepaskan nitrogen ke dalam tanah dalam bentuk ammonia. Pada lahan pertanian yang mengandung rendah bahan organic maka mikroorganisme memanfaatkan nitrogen untuk hidupnya tanpa melepaskan nitrogen yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

Azolla dapar menjadi kombinasi alternatif dengan pupuk N anorganik dalam penyediaan unsur N pada tanaman. Unsur N berpengaruh sangat bagi tanaman pada masa vegetative, dan bila kecukupan N maka daun tanaman akan tumbuh besar dan luas permukaan akan bertambah sehingga membantu proses fotosintesis (Poerwowidodo (1992), Shekhfani (1993), dan Novizan (2002)). Azolla memiliki kandungan unsur hara yang tinggi karena bersimbiosis dengan Anabaena dalam mengikat nitrogen bebas di udara. Azolla dapat dijumpai pada lahan sawah dan kolam ikan. Petani kadang belum paham akan hadirnya Azolla yang dilakukan petani biasanya yaitu dengan menyingkirkan dan membuangnya karena dianggap gulma. Azolla yang tertumpuk akan mengalami proses dekomposisi sehingga akan terbentuk humus sehingga dapat meningkatkan kapasitas cekaman air pada tanah  dan aerasi dalam tanah (Kotpal dan Bali, 2003). Selain itu Azolla dapat meningkatkan kesuburan tanah dengan meningkatkan ketersediaan nitrogen, karbon organic, unsur P dan K (Mandel et al, 1999). Nitrogen dari pupuk organik Azolla baru akan tersedia untuk tanaman padi setelah mengalami mineralisasi dalam tanah.

Pada beberapa petani yang sudah paham dengan Azolla, menjadikan Azolla sebagai bahan kompos. Wujud Azolla yang dapat ditemukan di lapang berupa Azolla segar, Azolla kering dan kompos Azolla. Dengan beberapa jenis bentuk azolla sehingga ketersediaan pupuk organik berbahan Azolla menjadi kombinasi dengan pupuk N anorganik sebagai penyedia unsur hara N yang seringkali diaplikasikan pada tanaman padimelimpah, murah, dan dapat meningkatkan kandungan bahan organic.

Beberapa kajian tentang manfaat Azolla sebagai pupuk N diantaranya adalah sebagai berikut Putra (2013), Pengaruh Pemberian Berbagai Bentuk Azolla dan Pupuk N Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Jagung Manis (Zea mays var. saccharata), dari ketiga bentuk pengaplikasian azolla, bentuk azolla kering dan kompos azolla memberikan pengaruh positif terhadap parameter jumlah daun pertanaman, bobot kering per tanaman dan kadar gula jagung dibandingkan aplikasi azolla segar. Ismoyo (2012) Pengaruh Dosis Kompos Azolla dan Kalium Organik Terhadap Ketersediaan Kalium dan Hasil Kacang Tanah Pada Alfisofil memberikan pengaruh nyata terhadap K tertukar, kadar bahan organik, N total tanah, kapasitas tukar kation, berat segar brangkasan dan berat kering brangkasan tanaman kacang tanah pada tanah alfisol namun tidak berpengaruh terhadap kadar pH, berat segar polong, berat kering polong, jumlah polong, tinggi tanaman, berat biji dan jumlah biji kacang tanah di tanah alfisol. Gatot (2012), Kajian Aplikasi Kompos Azolla dan Pupuk Anorganik Untuk Meningkatkan Hasil Padi Sawah (Oryza sativa L) pada perlakuan dosis organic kompos azolla 6 t.ha-1 menunjukkan hasil gabah per hektar yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan dosis pupuk organik kompos azolla yang lain yaitu sebesar 8,67 t.ha -1 dengan presentasi gabah isi 89,62%. Berikut adalah pembuatan pupuk organic dari Azolla:

  1. Pengomposan azolla

Azolla dikeringanginkan selama 5 hari dengan tujuan mungurangi air yang menetes kemudian ditimbang sebanyak 13 kg dan ditata di atas terpal setebal 10 cm, kemudian bekatul 650 gr dan arang sekam 1300 gr ditaburkan diatasnya secara merata, disemprotkan larutan EM4 5,2 ml, gula merah 3,25 gr dan air 1 liter, secara merata kemudian metumpuk kembali azolla dan metutup rapat serta difermentasikan selama 14 hari dan dilakukan pembalikan 1 kali dalam 2 hari. (Modifikasi dari Nadiah, 2016).

  • Pembuatan poc azolla

Tanaman azolla yang akan difermentasi di keringanginkan selama 3 hari dengan tujuan megurangi air yang menetes kemudian ditimbang sebanyak 5 kg, selanjutnya membuat larutan dengan mencampurkan air bersih sebanyak 5 liter, gula merah 5 ons kemudian dihaluskan menggunakan pisau agar mempercepat larut didalam air dan cairan mikroorganisme EM4 (bioaktivator) 50 ml ke dalam ember.

Selanjutnya mencampurkan azolla dengan larutan yang sudah dibuat dan diaduk sampai merata, mengoles permukaan mulut ember dengan sabun krim untuk mencegah lalat tidak masuk dan bertelur. Menutup ember dengan rapat sehingga udara tidak masuk. Menyimpan ember di tempat teduh, terhindar dari sinar matahari selama 14 hari dan dilakukan pengadukan setiap hari, proses fermentasi yang berhasil ditandai dengan adanya bercak-bercak putih pada permukaan cairan. Setelah nantinya proses fermentasi berhasil ampas dan cairan di pisahkan dengan cara menyaring larutan. Cairan merupakan pupuk organik cair (poc) yang telah jadi. (Modifikasi dari Nadiah, 2016).

REFERENSI

Hakim, Nyakpa dan A.M Lubis. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung, Lampung

Ismoyo, L., Sumorno., Sudadi., “Pengaruh Dosis Kompos Azolla Dan Kalium Organik Terhadap Ketersediaan Kalium Dan Hasil Kacang Tanah Pada

Alfisol”. Surakarta: Study ilimu Tanah, Fakultas Pertanian, UNS 2013.

Kotpal R L dan N.P Bali. 2003. Concepts of Ecology Enviromental and Field Biology. Visual Publishing Company. India

Mandel B, Vlek P L G dan Mandal L N. 1999. Beneficial Effect of Blue Green Algae and Azolla Excluding Supplaying Nitrogen, on Wetland Rice Field. Biol.fertil. soils 28. 329-342. Novizan, 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Putra, D.F., Soenaryo, Tyasmoro, S.Y. 2013.Pengaruh pemberian berbagai bentuk azolla dan pupuk N terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung manis Zea mays var. saccharata”. malang:budidaya pertanian, fakultaspertanian universitas brawijaya

Poerwowidodo, 1992. Telaah Kesuburan Tanah. CV. Angkasa . Bandung.

Sarief, S., 1989. Kesuburan Tanah dan Pemupukan Tanah Pertanian. Pustaka Buana. Bandung

Syekhfani, 1993. Pengaruh Sistem Pola Tanam terhadap Kandungan Pupuk Organik. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional IV Budidaya Pertanian Olah Tanah Konservasi di UNILA. Bandar Lampung.

Nadiah. A. 2016  Prospek Azolla Sebagai Pupuk Hijau Penghasil Nitrogen. Surabaya: Balai Besar Pembenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan