Optimalisasi Lahan Karet (Hevea Brasiliensis) Dengan Padi Gogo ( Oriza Sativa L ) Organik-Rl

Budiono
Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang
Kementerian Pertanian

Perkembangan prekonomian nasional maupun internasional pasca covid-19, mengalami stagnasi yang cukup signifikan. Apalagi sector industri , termasuk industri pengolahan hasil karet. Tentu kondisi ini akan menimbulkan dampak terhadap perekonomian perdesaan di daerah perkebunan karet. Untuk mengatasi situasi ini diperlukan inovasi teknologi dan rekayasa sosial ekonomi agar sumber daya yang ada dapat dioptimalkan.

Memperhatikan sumberdaya lahan perkebunan yang sangat luas di wilayah kerja Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang mencapai hingga 600 ribu hektar yang tersebar di 5 propinsi, yaitu Kalbar, Kalteng,Kalsel, Kaltim dan Kaltara. Produktifitas karet masih dibawah kapasitas produktifitas nasional yang mencapai 1.080 Kg/Ha yaitu berkisar 500-900Kg/Ha.

Hal ini disamping belum optimalnya teknologi diterapkan, lingkungan, sehingga juga karena keterbatasan sarana produksi, dan motivasi petani karet pada dekade 2010-2020 merosot karena harga fluktuasi dibawah harga yang sewajarnya berkisar Rp.3.500 – 6500/Kg dan kendala bencana kebakaran yang cukup berpengaruh terhadap produktifitas karet. Hal ini tentu dibawah produktifitas tanaman karet Thailand yang mencapai 1.800 Kg/Ha dan mempunyai nilai tambah produknya. Salah satu sport system antara lain adalah inovasi budidaya padi gogo organik di lahan karet.

Untuk itu mari kita menyimak rangkaian teknologi yang merupakan hasil akulturasi sosial budaya lokal dan pengembangan teknologi 4.0. Semoga menjadi alternative jawaban permasalahan  yang dialami petani dan penyuluh pendamping petani bahkan para pengambil kebijakan yang ada di dinas terkait.

Download PDF