MENJAGA HUTAN, MENJAGA SIKLUS AIR

Oleh:

Aman Nurrahman Kahfi, S.TP., M.Sc.

Widyaiswara Ahli Pertama – Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang

Pada dasarnya hujan merupakan salah satu rahmat Allah SWT kepada makhluknya. Melalui hujan, Allah hidupkan berbagai macam tumbuhan. Manusia dan makhluk hidup lain pun dapat memanfaatkan kemurahan Allah dari hujan itu. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 57

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ

Artinya : “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan.”

Dengan air hujan, tanah yang awalnya kering pada kondisi titik layu permanen menjadi basah sehingga biji dan rimpang yang dorman dapat bertunas menjadi tanaman hidup subur. Dalam ilmu hidrologi, hujan adalah bagian dari siklus air. Penguapan air laut dan air permukaan lainnya terkondensasi di atmosfer dalam bentuk awan. Awan bergerak didorong oleh angin, lalu ketika sampai pada tempat yang mempunyai perbedaan tekanan dan suhu terjadilah hujan di tempat itu dalam bentuknya masing-masing.

Kondensat awan terbentuk dari dominasi air laut yang berasa asin, turun sebagai hujan yang berasa tawar. Ini bentuk kabar gembira sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Quran surat Al-A’raf di atas. Manusia akan membutuhkan investasi yang sangat besar untuk merubah atau menyuling air laut menjadi air tawar sebagaimana yang dilakukan negara Singapura contohnya, pun itu masih mempunyai banyak kelemahan. Di Indonesia sendiri penyulingan air lau menjadi megaproyek senilai 14 milyar tahun 2015 di Pulau Ende. Namun hanya digunakan dua kali akhirnya rusak dan mubadzir. Maka subhanallah, siklus hidrologi atau siklus air ini adalah mega penyulingan yang dahsyat. Siklus hidrologi ini secara umum sangat banyak dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Quran, salah satunya pada

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ

Artinya : “Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya.” (QS. Ar-Ruum : 48)

Mahakarya Allah yang ditundukkan kepada manusia ini perlu disyukuri. Bentuk syukur atas karunia ini adalah mengikuti kaidah sunnatullah air hujan sehingga dapat dimanfaatkan. Salah satunya adalah menjaga hutan dan daerah konservasi. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Mukminuun ayat 18

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ

Artinya : “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.”

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa sunnatullah air adalah menetap di Bumi. Bentuk menetapnya air di Bumi sebagai cadangan air di dalam perut bumi yaitu air tanah, yang biasanya menjadi sumber bagi sumur. Sedangkan yang sebagiannya lagi di permukaan bumi sebagai air permukaan contohnya sungai dan danau. Kedua bentuk simpanan air ini adalah kuasa Allah agar makhluk hidup dapat memanfaatkannya. Di akhir ayat, Allah SWT menegaskan bahwa Ia bisa saja menghilangkan air yang menetap di Bumi, ketika kondisi Bumi tidak lagi mungkin menyimpan air. Dan bentuk peringatan Allah ini berkorelasi dengan perilaku manusia, antropogenik.

Dalam ilmu hidrologi, simpanan air ini dipengaruhi oleh tutupan lahan. Tanaman keras merupakan satu-satunya bentuk tutupan lahan yang sangat baik dalam meningkatkan simpanan air di Bumi. Semakin luas dan banyak tanaman kerasnya, maka semakin baik simpanan airnya baik dalam tanah maupun air permukaan. Sehingga ketika hujan turun, air tertunda untuk segera terakumulasi di sungai menuju laut karena air banyak masuk dalam tanah. Maka risiko terjadinya banjir akan sangat minim. Seiring berjalannya waktu ketika musim kemarau, simpanan air tanah akan mengalir lateral mengisi sungai dan sumur kita. Maka, pada musim kemarau kita tidak akan kekurangan air bersih.

Hutan mempunyai fungsi yang sangat penting sebagai penyangga kesetimbangan air. Indikator penyangga atau hutan masih optimal atau tidak dapat dilihat dari distribusi air antara musim kemarau dan musim hujan. Jika ketersediaan air antara musim kemarau dan musim hujan tidak terlalu signifikan, artinya fungsi daerah penyangga masih optimal. Namun jika musim kemarau terjadi kelangkaan air bersih dan ketika musim hujan terjadi kelebihan air sampai terjadi banjir, maka fungsi hutan sebagai daerah konservasi pastilah sudah rusak. Inilah alasan ilmiah dari peringatan Allah dalam Al-Quran surat Al-Mukminun ayat 18 di atas.

Semua ini adalah tanggung jawab kita untuk menjaga hutan agar sesuai dengan sebagaimana fungsinya. Tanggung jawab ini tidak hanya melekat pada pemerintah atau lembaga sosial kemasyarakatan spt Muhammadiyah. Namun tetap melekat pada diri kita, sesuai dengan porsi kita masing-masing. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 30 bahwa Allah telah memberi tugas kepada manusia sebagai khalifah di Bumi. Khalifah minimal mempunyai tiga tugas yaitu melindungi, memakmurkan dan memelihara. Maka, pada momentum dan nuansa Idul Fitri ini, kembali pada fitrah ini kita ejawantahkan dengan memelihara, memakmurkan, dan melindungi hutan yang ada di sekitar dan berada dalam kendali kita.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum : 41)

Kerusakan lingkungan yang ada di sekitar kita adalah penyebab datangnya bencana ekologis. Hukum sebab-akibat alamiah atau sunnatullah adalah cara Allah mengingatkan kita dengan halus agar kita kembali ingat bahwa kita tidak hanya memelihara hubungan hablum minallah tetapi juga sebagai khalifah yang bertugas memelihara keseimbangan alam sebagai implementasi dari iman kepada Allah. Banjir dan kekeringan bisa kita antisipasi dengan menjaga hutan, menghindari pembakaran dan perusakan hutan, illegal logging dan pembukaan hutan untuk industri ekstraktif. Sehingga korelasinya dengan taqwa yaitu ketika kita benar-benar taqwa maka kita takut merusak hutan karena melalui hutan Allah memberikan karunia dan rahmat-Nya. Dengan kata lain, jika kita merusak hutan, maka kita merusak karunia dan rahmat Allah.