Menakar Nilai Ekonomi Kulit Karet

Marhenis Budi Santoso
Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang
Kementerian Pertanian

Hari masih pagi saat memasuki kawasan kebun karet.  Suasana dingin terasa menyentuh kulit tangan yang telanjang tanpa baju lengan panjang. Terlihat  2 – 3  berjalan dari pohon ke pohon, berhenti dan menggerakkan pisau sadapnya, menoreh  dan menarik untuk menyadap kulit karet.  Sepertinya sudah sejak satu jam lalu mulai bekerja menyadap. Itu terlihat dari alur sadapan yang mengalirkan getah dan menetes ke mangkok sadap, sudah beberapa pohon. Itulah mata pencaharian sebagian besar petani asli di Kalimantan Selatan.

Mereka mengandalkan karet sebagai sumber pendapatan harian. Secara rutin ke kebun dan menyadap karet dijual untuk mendapatkan uang. Memang tidak hanya karet sebagai sumber penghidupannya. Karet yang sudah mereka miliki sejak lama, baik ditanam atas swadaya atau program pemerintah melalui proyek-proyek perkebunan, menyisakan kebun karet atau lebih layaknya disebut hutan karet karena kondisi yang sudah menyerupai hutan, sudah kurang terurus lagi. Di beberapa tempat, bahkan di barisan karet ditumbuhi semak, hanya di jalur tanaman karet yang bersih, tegakan yang sudah tak berbentuk kulit lagi, penuh dengan luka-luka goresan yang tak bisa pulih dengan baik. Itulah kondisi kebun karet sebagian yang masih terlihat, meskipun ada di beberapa tempat tanaman baru dan masih baik kondisinya. Mungkin  tanaman peremajaan atau tanaman bukaan lahan baru.

Download PDF