MEMANEN AIR HUJAN “(Rainwater Harvesting)”

Oleh :
AMAN NURRAHMAN KAHFI
Widyaiswara Ahli Pertama

Air berkaitan erat dengan hajat hidup orang banyak. Kebutuhan air bukan hanya untuk produksi pangan, namun juga untuk kebutuhan rumah tangga, industri dan kebutuhan hidup. Untuk kebutuhan pribadi saja, setiap individu membutuhkan air bersih yang cukup banyak, belum lagi untuk kebutuhan pertanian dan industri. Berdasar survei yang dilakukan Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya, Kementerian PU tahun 2006 menunjukkan bahwa kebutuhan pokok minimal pemakaian air sendiri setiap orangnya mencapai 121 liter perhari (www.pu.go.id). Pemakaian tersebut antara lain untuk minum dan masak, cuci pakaian, mandi, bersih rumah, serta keperluan ibadah. Dari data tersebut dapat dihitung jumlah kebutuhan air perbulan dalam komunias dan kawasan tertentu.

Sebenarnya, ketersediaan air di sekitar kita sangat besar terutama kalau dilihat dari curah hujan pertahunnya. Rata-rata curah hujan Indonesia lebih dari 2000 – 3000mm pertahunnya. Bahkan ada daerah yang curah hujannya di atas 3000mm pertahunnya, yaiu Kalimantan Tengah, Sumatera Barat dan pegunungan di Papua. Akan tetapi, curah hujan tersebut persebarannya tidak merata sepanjang tahun. Sehingga kita mengenal musim hujan dan musim kemarau. Padahal di sisi yang lain kebutuhan kita terhadap air tetap sepanjang tahun. Karakteristik ini lah yang kadang kurang dipahami oleh sebagian besar masyarakat kita, meskipun masyarakat kita ada yang mengalami musibah kekeringan dan kebanjiran.

Persebaran hujan yang tidak merata sepanjang tahun, yaitu ketersediaan air yang cukup besar pada 4-5 bulan musim hujan, sedangkan sisa bulan lainnya ketersediaan air menurun bahkan dikategorikan sampai pada tingkat kelangkaan (scarcity). Pada musin hujan, peluang terjadinya banjir sangat besar, sebaliknya kemungkinan terjadinya kekeringan di musim kemarau juga tidak sedikit. Sebenarnya dua kejadian yang saling berlawanan ini dapat diselesaikan dengan satu penyelesaian yaitu konservasi lahan dan air. Namun permasalahannya, peruntukan lahan-lahan konservasi sekarang sudah dibuka untuk keperluan lain seperti pertanian, industri dan real-estate. Jika sudah demikian, mitigasi terhadap banjir dan kekeringan dilakukan pada daerah tengah atau hilir dengan cara manajemen air hujan, salah satunya dengan pemanenan air hujan (rainwater harvesting).

Pemanenan air hujan (rainwater harvesting) merupakan usaha untuk mengumpulkan, menampung dan menyimpan air hujan sehingga dapat digunakan ketika dibutuhkan saat kemarau tiba. Pemanenan air hujan bukan terbatas pada air hujan (rainfall) yang jatuh pada atap tetapi juga yang sudah terakumulasi menjadi limpasan permukaan (surface runoff). Pemanenan air hujan dapat dilakukan oleh siapa saja dengan volume/skala yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Petani dan stakeholder pertanian dapat mengadopsi teknologi water harvesting dengan pembuatan embung pertanian. Kementerian Pertanian telah menyusun pedoman teknis pengembangan embung pertanian pada tahun 2017 sebagai upaya untuk mengantisipasi dampak dari banjir dan kekeringan yang menyebabkan puso. Pedoman teknis yang disusun oleh Direktorat Prasarana dan Sarana Pertanian ini dapat dijadikan acuan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman pada musim kemarau dengan biaya pembuatan yang murah dan penggunaan yang efektif. Tentu pedoman teknis tersebut tidak terbatas pada proyek ansich tetapi meluas pada kemanfaatan petani sebagai pelaku utama pertanian, sehingga dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan waktunya.

Kesadaran akan kemanfaatan embung untuk meningkatkan ketersediaan air terlihat dari kerjasama antara Kementerian Pertanian dengan Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi untuk membangun embung-embung desa. Pembangunan embung diyakini dapat meningkatkan jumlah produksi dan meningkatkan indeks pertanaman. Apalagi kondisi sosio-kultural masyarakat desa lekat dengan kegiatan pertanian.