Kementan Fasilitasi Pendampingan Purnawidya Pelatihan Kewirausahaan DPM/DPA

PRESIDEN Republik Indonesia, Joko Widodo menegaskan, insan pertanian harus terus meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui berbagai pelatihan dengan memanfaatkan Teknologi Informasi (TI) di era Revolusi Industri 4.0.
“Saya selalu ingatkan, bangsa kita dapat bertahan dan terus bertumbuh melalui peningkatan kualitas SDM Unggul dan Saudara insan pertanian telah membuktikannya dengan kerja keras, kerja sama dan kerja cerdas dibidang pertanian. Hadirnya ribuan pengusaha pertanian milenial yang kreatif, inovatif, memiliki passion, dan produktif serta terbuka terhadap pemikiran baru, kritis, dan berani dapat menciptakan peluang baru bisnis pertanian seiring dengan kebutuhan di masyarakat dan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir,” pesan Jokowi.

Menjawab tantangan presiden, Kementerian Pertanian RI terus menggenjot memfasilitasi petani milenial sebagai agen transformasi dari pertanian konvensional  menuju pertanian milenial (4.0).
Salah satu di antaranya adalah Pelatihan Kewirausahaan bagi DPM/DPA di Kalimantan Barat.
Bahkan berkelanjutan para purnawidya pelatihan kewirausahaan DPM/DPA, meski kegiatan pelatihan telah usai namun sebenarnya itu baru langkah awal pendampingan kepada petani petani milenial ditanah air. 

Tak ketinggalan pengawalan pasca pelatihan, dilakukan oleh BBPP Binuang kepada Purnawidya Pelatihan Kewirausahaan DPM/DPA propinsi Kalimantan Barat yang baru usai seminggu yang lalu. Sekaligus menjadikan momen untuk  giat bekerja dan usaha sebagai tindaklanjut pelatihan.
Sebagaimana perannya sebagai kader untuk membangun jejaring pertanian nasional (JPN), dengan tugas meresonansi petani petani milenial (muda) sehingga terbangun jejaring sosial, kultur dan ekonomi untuk memperkuat usaha taninya baik secara personal maupun group/ kelembagaan usaha.

Pengawalan dan pendampingan ini wujud fasilitasi keberpihakan BBPP Binuang sebagai UPT BPPSDMP, Kementerian Pertanian RI. Dengan segala keterbatasan tak mengurungkan/ membatasi langkah untuk memberdayakan petani milenial. 
Tentu langkah ini harus menjadi langkah yang ekstra ordinary mengingat tuntutan pelaku pertanian untuk sejahtera makin menguat hingga menjadi perhatian khusus menteri pertanian, Dr Syahrul Yasin Limpo sebagai super prioritas program kementerian pertanian RI. 
Momentum ini tentu makin terasa di era pandemik covit-19, dimana makin terbukanya pengangguran sebagai akibat  resesi ekonomi di tahun 2020 dan awal 2021.

Melalui program percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), dari sektor pertanian tentu diharapkan multidimensi permasalahan tersebut, baik  pembukaan lapangan kerja, kesempatan berusaha, mendorong komoditas ekspor, swasembada pangan, memperkuat komoditas subsitusi komoditas impor.  
Kondisi ini tentu tak hanya untuk memperbesar devisa negara, menampung pengangguran masal, namun lebih dari itu yaitu mewujudkan tingkat kesejahteraan petani secara nyata. 
“Dengan harapan petani yang makin sejahtera mampu menjdi daya tarik calon calon petani milenial dan pengembangan usaha berskala ekonomi dan ekspor,” ungkap Budiono, Widyaiswara BBPP Binuang di sela-sela memberikan konsultasi daring.

Pendampingan purnawidya, meski secara daring, cukup efektif untuk memotivasi, memberi bahan pertimbangan, percepatan informasi baik inovasi teknologi yang berdaya saing dan pemasaran yang kompetitif.

Gadget telah menjadi teman setia petani milenial, bukan sebagai sarana entertain semata tapi jauh lebih produktif, termasuk konsultasi dan penerapan hasil hasil pelatihan kewirausahaan. 
Para milenial tersebut tentu tidak hanya didampingi secara daring, namun dapat kemudahan kemudahan dalam mengekplorasi dan eksploitasi potensi dirinya dalam rangka mengoptimalkan fasilitas dari pemerintah.
“Salah satu di antaranya akses permodalan dengan KUR 3%/tahun bunganya; jaminan kerugian (asuransi Jasindo); jejaring inovasi teknologi dan pemasaran;  melalui jaringan pertanian nasional (JPN) menjadi jejaring sosial petani milenial dalam mengembangkan potensi dirinya dan feeding informasi kebijakkan,” jelasnya.

Pendampingan melalui konsultasi daring, di mana purnawidya menerapkannya di lapangan secara langsung dengan pembimbing /konselor melalui fasilitas WA group, Vcall dan telpon.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) pada kesempatan lain menekankan bahwa Indonesia memerlukan adanya regenerasi petani dalam rangka pembangunan pertanian nasional, terutama mengubah manajemen usaha pertanian.

Dijelaskan Dedi, tahun ini, Kementan kembali mencari DPM/DPA sebanyak 1000 calon untuk dikukuhkan oleh Kementan. Ini merupakan salah satu upaya mempercepat regenerasi petani dengan meningkatkan peran generasi muda pertanian dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian agar lebih prospektif dan berpeluang ekspor.
“Duta-duta ini diharapkan mampu menarik generasi milenial lainnya untuk ikut berwirausaha pertanian. Selain itu, mampu mempercepat advokasi kepada masyarakat terutama berkaitan dengan program-program Kementerian Pertanian sehingga program tersebut dapat dilaksanakan dengan cepat di lapangan,” kata Dedi.[adv]

Syarat-syarat Duta Petani Milenial (DPM):

  1. Pemuda pemudi usia 17 s/d 39 tahun dengan bukti E KTP.
  2. Mempunyai HP Android dengan nomor aktif.
  3. Berdomisili tetap di wilayah kabupaten/kota yang diresonansi.
  4. Mempunyai usaha di sektor pertanian (dibutikan foto tempat usaha/perijinan lainnya).
  5. Tidak sedang mengabdi sebagai ASN.
  6. Tidak berpartai politik.
  7. Anggota JPN ( Jaringan Pertanian Nasional) disetiap kecamatan.
    Bagi Calon Anggota JPN /DPM di tingkat Kabupaten/Kota, kecamatan untuk wilayah kerja Pulau Kalimantan dapat menghubungi Korwil/korda masing masing atau sdr.Agus Sumantri,SP: 081290017810 atau Email: bbpp.binuang@gmail.com