Kementan Dukung Keberadaan Appokat

PELATIHAN boleh selesai, usaha jalan terus. Selepas melaksanakan pelatihan Pangkalanbun, Tim Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang sebagai salah satu UPT Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Kementerian Pertanian RI memberikan pendampingan terhadap agribisnis porang.
Ini diawali dari Poktan Cipta Porang Mandiri yang dipromotori Ir Eka Agus setelah purna dari manajer salah satu perusahaan kelapa sawit di Kalimantan Tengah. Ia giat memotivasi para petani baik yang telah budidaya dan akan berbudidaya porang.

Apalagi sejak purna pelatihan, Ia ingin segera mewujudkan apa yang telah disusun dalam rencana tindak lanjut yang disusun saat mengikuti pelatihan budidaya dan kelayakan usaha porang yang didukung Kementerian Pertanian RI dan dilaksanakan UPT BBPP Binuang.
Saat interview seleksi lokasi kunjungan praktek lapang, tim termotivasi untuk melibatkan Poktan Cipta Porang Mandir sebagai lokasi kunjungan. Tim yang meliputi Purnadi SP MP, Yusuf Rijanto MA dan Budiono.

Saat pelatihan dilaksanakan pada hari kedua, peserta diajak ke lokasi Poktan Cipta Porang Mandiri yang berada di Kelurahan Baru, Pangkalanbun, Kotawaringin Barat. Selama kunjungan banyak aspirasi dan dukungan dan selanjutnya dikembangkan menjadi Assosiasi  Petani Porang Kotim (APPOKAT).
Ini agar menjadi wahana perjuangan para petani porang, baik dari hulu hingga hilir dengan harapan komoditas ini menjadi berkah rezeki dalam memanfaatkan peluang dan momen kebijakan pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI.

Apalagi dengan semangat dan kreativitasnya sang pelopor, Ir Eka Agus juga ingin membantu menyediakan bibit yang sehat, berkualitas dan terjangkau harganya dan menjamin kepastian harga pasar yang saling menguntungkan diinisiasi pembentukan Appokat. 
Tentu untuk memperkuat jejaring porang diperlukan kemitraan yang adil dan berkelanjutan, pada sat itu juga disepakati untuk pembagian kewewenangan bahkan poktan dan gakpotan bersma petani akan fokus usaha budidaya/onfarm dan asosiasi melaksanakan penyiapan bibit yang dirasa masih langka dan harganya masih melangit di atas Rp180.000 per kilogram.
Juga menampung dan mengolahnya hingga mempunyai nilai tambah yang dapat menyejahterakan petani porang dan selanjutnya memasarkan baik sebagai bahan pengganti maupun olahan lain yang diperlukan masyakarat Pangkalanbun dan sekitar, sekaligus untuk mendukung program gratieks yang ditargetkan oleh Kementerian Pertanian RI.Kreativitas dan semangatnya telah menarik perhatian tim, begitu pula tim gayung bersambut memberikan motivasi dan informasi menjadi inspirasi untuk dikembangkan menuju agribisnis dan agroindustri.

Apalagi dengan spirit Menteri Pertanian dalam mengembangkan sumber daya manusia pertanian, agribisnis porang, gratiek dan KUR, tentu momentum yang tak boleh disia-siakan.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) menekankan perlunya menggerakkan pertanian mulai dari desa hingga kecamatan. Sinergitas Kementan bersama Kementerian Dalam Negeri akan menggerakkan ekonomi dan membangun bangsa, salah satu contoh yakni saat pandemi corona saja, sektor pertanian luar biasa tangguh dan satu-satunya penyelamat perekonomian nasional.
Mentan mengatakan, berbagai terobosan dan inovasi dalam pelaksanaan program pembangunan pertanian guna mewujudkan SDM unggul harus terus didorong guna peningkatan produktifitas, kualitas dan kontinuitas produksi pertanian secara nasional.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Prof Dedi Nursyamsi menyampaikan, petani harus jeli mengembangkan sektor usahanya agar mendapatkan hasil optimal.

Selanjutnya Kepala BBPP Binuang, Dr Ir Yulia Asni Kurniawati M.Si menyampaikan, petani milenial di wilayah kalimantan Tengah melakukan penetrasi untuk membangun jejaring ekonomi bersama dengan BUMDes mengembangan sinergisitas dengan BUMP baik P4S, Gakpotan, JPN dan kelembagaan petani lainnya. 
“Sehingga permasalah usaha tani dapat diselesaikan bahkan menjadikan masalah menjadi peluang baru. Saya harap melalui pelatihan ini dapat menjadi kebangkitan petani milenial di wilayah Kalimantan Tengah,” pungkasnya.[advertorial]