“Eco Enzyme”, Produk Limbah Organik yang Mempunyai Sejuta Manfaat

Limbah Organik Sebelum Fermentasi Limbah Organik Hasil Fermentasi

Oleh

Intan Kurnianingrum, S.P., M.T.P

Widyaiswara Ahli Pertama

Berdasarkan data pengelolaan sampah, limbah dan B3 KLHK, total sampah di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 68 juta ton dan 60% diantaranya merupakan limbah organik. Limbah organik dapat berasal dari rumah tangga, kulit buah-buahan, sayuran, dan lain-lain. Jumlah limbah yang begitu besar dapat berdampak menimbulkan bau dan menjadi sarang penyakit. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan limbah organik.

Pengelolaan limbah organik di Indonesia masih tergolong rendah karena masyarakat lebih sering melakukan pembakaran daripada mengolahnya. Pembakaran dapat menimbulkan berbagai masalah seperti polusi udara yang akan mengakibatkan gangguan pernapasan dan gangguan kesehatan lainnya. Salah satu pengolahan limbah organik yaitu dengan mengolahnya menjadi eco enzyme. Eco enzyme merupakan suatu cairan yang dihasilkan dari proses fermentasi sederhana dari sisa sayur dan buah dengan tambahan gula dan air sebagai pelarutnya. Penemu formula ecoenzim ini adalah Dr. Rosukon Poompanvong yang merupakan pendiri asosiasi pertanian Thailand. Beliau melakukan penelitian ecoenzim ini sejak tahun 1980an. Kemudian secara luas diperkenalkan oleh Dr. Joean Oon yang merupakan seorang peneliti Naturopathy dari Penang Malaysia.

Eco enzyme dibuat dengan komposisi limbah organik, gula, dan air dengan perbandingan 3 : 1 : 10.  Syarat Bahan organik yang digunakan adalah bahan belum mengalami proses pemasakan (direbus, digoreng, ditumis), bahan tidak busuk/berulat/berjamur, bahan tidak mengandung minyak (kelapa dan ampasnya), dan bahan tidak keras. Air yang dapat digunakan pada pembuatan eco enzyme yaitu air isi ulang, air gallon, air pam (apabila mengandung kaporit air diendapkan minimal selama 24 jam), air hujan (diendapkan terlebih dahulu selama 24 jam), dan air sumur. Gula yang dipergunakan dalam pembuatan eco enzim adalah gula merah tebu, gula aren, gula kelapa, gula lontar, dan molase. Gula pasir tidak disarankan digunakan karena gula pasir mengalami rafinasi dalam pembuatannya. Syarat wadah yang digunakan adalah menggunakan wadah dengan tutup bermulut lebar. Wadah dengan bahan logam dan bermulut sempit tidak dianjurkan karena rentan meledak.

Proses pembuatan eco enzyme sangatlah mudah. Diawali dengan membersikan wadah dari sisa sabun atau bahan kimia. Sebelumnya harus diketahui volume total dari wadah dikarenakan air yang dimasukkan dalam wadah maksimum 60% dari volume wadah. Selanjutnya masukkan gula dan masukkan bahan organik yang telah dilakukan pengecilan ukuran kemudian wadah ditutup rapat. Syarat-syarat melakukan penyimpanan yaitu wadah tidak terkena matahari langsung, ruang penyimpanan memiliki sirkulasi udara yang baik, jauh dari WIFI, WC, tong sampah dan bahan-bahan kimia lainnya

Proses pembuatan eco enzyme memerlukan waktu 90 hari. Pada 7 hari pertama dilakukan pembukaan dilihat apakah terjadi kontaminan atau tidak. Apabila timbul jamur berwarna hitam dan berbau got maka yang harus dilakukan adalah memperbaiki kerapatan wadah kemudian wadah dijemur selama 30 menit selama 3 hari, apabila bau got tidak hilang selama 3 hari penjemuran maka diperbaiki dengan penambahan sejumlah gula sesuai takaran dari awal pembuatan. Pada 30 hari pertama dilakukan pengecekan kembali apakah terjadi kontaminan atau tidak. Apabila tidak dilanjutkan sampai 90 hari tanpa dibuka kembali.

Keberhasilan eco enzyme ditandai dengan aroma alcohol pada 30 hari pertama, dan beraroma asam segar seperti cuka pada 30 hari kedua. Serta timbul lapisan jamur dan lapisan seperti jeli pada larutan fermentasi. Setelah 90 hari eco enzyme dipanen dengan diambil larutannya sedangkan ampasnya dapat dikeringkan untuk dijadikan pupuk organik, mengharum ruangan, dan pengusir serangga. Larutan eco enzim dapat dijadikan sebagai pestisida dan pupuk organik cair dengan campuran 1 ml eco enzyme diencerkan dalam 1 liter air kemudian dapat disemprotkan ke tanaman. Manfaat lainnya yaitu sebagai air purifier, menghilangan asap dan bau. Dalam bidang kehidupan sehari-hari dapat dijadikan pembersih lantai, deterjen dan pelembut alami, karbol, sabun cair dan membersihkan buah dan sayuran dari pestisida dan kuman. Untuk perawatan diri eco enzyme dapat dijadikan pengganti pasta gigi, shampoo, sabun, dan obat kumur.

Berikut takaran untuk eco enzyme  (ECE) dalam aplikasi sehari-hari:

No.PenggunaanTakaranManfaat
1Membersihkan kompor dan areal dapurECE : Sabun Cair : Air = 1 : 1 : 10Membantu membersihkan minyak
2Mencuci piringECE : Sabun Cair :  Air = 1 : 1 : 10Mengilangkan minyak dan bau
3Mencuci pakaianECE : Sabun Cair : Air = 1 : 1 : 1000Menghilangkan noda dan mudah dibilas, rendam beberapa menit
4Pembersih LantaiECE : Air = 1 : 10Membasmi kuman dan minyak, mengurangi serangga dan tikus
5Obat kumur dan pasta gigiECE : Air = 1 : 10Menyegarkan mulut, mencegah pendarahan gusi dan sariawan
6Hand sanitizerECE : Air = 1 : 400Membersihkan kuman
7Anti radiasiECE murniMasukkan dalam botol tertutup dan letakkan di dekat peralatan elektronik
8Bisul atau luka goresECE murnikompres
9Pembersih Udara (air purifier)ECE : Air = 1 : 1000Membersihkan kuman di udara
10Membersihkan hewan peliharaanECE : Air =  1 : 10Menghilangkan bau, mengurangi pertumbuhan parasite, memperbaiki kondisi penyakit kulit

Sumber : persatuan enzim alam sekitar-Malaysia

Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang telah melakukan produksi eco enzyme dan diaplikasikan  sebagai pupuk cair dan pestisida nabati pada tanaman tomat. Dampat yang terlihat setelah mengaplikasin eco enzyme tersebut terlihat bahwa serangan organisme penganggu tanaman rendah. Hasil dari buah tomat yang menggunakan eco enzyme juga terlihat lebih segar dan menarik. Oleh karena eco enzyme perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat luas agar sampah organik dapat terkurangi dan membantu ketergantungan terhadap bahan kimia.