DAMPAK EL NINO DAN LA NINA TERHADAP SERANGAN ORGANISME PENGGANGGU TANAMAN (OPT)

Oleh:

Amallia Rosya, SP., M.Si., Dan Asri Puspita Wardhani, M.Sc

Widyaiswara Ahli Pertama – Balai Besar Pelatihan Pertanian Binuang

Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia akan mengalami cuaca ekstrem akibat fenomena La Nina pada akhir  tahun ini.

Banyak masyarakat yag tidak mengetahui apakah itu EL Nino dan La Nina.  Dikutip dari BB Padi Kementrian Pertanian, El Nino adalah gejala penyimpangan (anomali) pada suhu permukaan Samudra Pasifik di pantai Barat Ekuador dan Peru yang lebih tinggi daripada rata-rata normalnya. Dampak EL Nino sebagian wilayah Indonesia mengalami kemarau panjang atau mundurnya awal musim hujan. Ada juga yang menyebutkan kondisi memanasnya massa permukaan air laut yang luas di Pasific ekuator bagian tengah hingga ke timur, yang mengakibatkan terjadinya pusat tekanan rendah, sehingga udara dari sebelah baat (Indonesia) dan sebelah timurnya (Chili) bergerak ke arah kolam hangat tersebut. Kondisi ini menyebabkan penurunan curah hujan di wilayah sekitar Indonesia dan Chili.

Sedangkan La Nina menurut BMKG adalah fenomena yang berkebalikan dengan El Nino. Ketika La Nina terjadi, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan di bawah kondisi normalnya. Pendinginan SML ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah dan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Fenomena ini berdampak terhadap sektor pertanian, yaitu dapat mengancam ketahanan pangan. Dampak dari El Nino dan La nina ini menyebabkan curah hujan yang tinggi dan banjir sehingga petani akan gagal panen pada musim tanaman tersebut. Selain itu akan menyebakan serangan OPT khususnya penyakit yang diamana penyakit tanaman akan cepat berkembangbiak jika curah hujan tinggi. Serangan hama akan meningkat dan bahkan dapat menyebabkan puso pada tanamanpangan khususnya Padi, Jagung dan Kedelai.

Kerusakan lahan pertanian karena anomali iklim El Nino dan La Nina dapat diartikan bahwa produksi tanaman akan terpengaruh oleh kedua kejadian tersebut. Tanaman pangan mislanya padi, jagung dan kedelai pada umumnya merupakan tanaman semusim yang memiliki siklus hidup pendek. Dampak El Nino dan La Nina dapat diketahui langsung dari perubahan kuantitas produksi tanaman padi dan jagung. Secara ekonomi, produksi pangan yang fluktuatif karena anomali iklim akan ikut pula mempengaruhi ketersediaan atau kuantitas Padi, Jagung dan Kedelai di Indonesia.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menjelaskan, terdapat tujuh stimulus kebijakan yang sudah diambil untuk mitigasi la nina. Salah satunya adalah melakukan mapping di seluruh wilayah rawan banjir.

“Kemudian kami mengaplikasikan early warning system dan memantau semua informasi yang ada di BMKG. Kita juga membentuk gerakkan brigade banjir (satgas OPT-DPI), brigade tanam, dan brigade panen,” ujar Mentan