Alsintan Mampu Cegah Penyebaran Corona, Petani Kaubun Siap Panen

SANGATTA, HUMAS - Pemerintah meminta agar pandemi virus Corona atau Covid-19 tidak membuat aktivitas pertanian berhenti. Sektor pertanian tetap harus terus berproduksi di tengah wabah Covid-19 yang juga melanda Indonesia.


Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, dalam kaitan dengan hal itu pihaknya mencanangkan tiga program aksi. 


Pertama, lanjutnya, Kostratani. Kemudian kedua penyuluhan, pendidikan dan pelatihan vokasi mendukung penumbuhan pengusaha pertanian milenial 2,5 juta selama 5 tahun. Selanjutnya ketiga penyuluhan, pendidikan dan pelatihan vokasi seperti Gedor Horti, Grasida, Sikomandan, KUR, PMS serta Gratieks.


Menurutnya, tiga program aksi tersebut terbukti sukses mempertahankan geliat sektor pertanian di berbagai daerah di Indonesia. 


Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Berkah Bersatu, Desa Kadungan, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur sebagai contohnya. 


Sebagai salah satu Gapoktan binaan BPP Kaubun dan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang, kelompok tani ini melaksanakan panen padi Varietas Mikongga pada Sabtu (4/4/2020). 

Priyanto, Ketua Gapoktan Berkah Bersatu menyampaikan, anggotanya tetap dan terus melakukan aktivitas pertanian seperti biasa seperti masa tanam panen.


"Kami (petani) terus beraktivitas seperti biasa, hari ini baru dapat 1 hektare di Poktan (Kelompok Tani) Tunas Karya ada 21 hektare, Poktan Giat 22 hektare dan poktan Maju Bersama 38 hektare semuanya siap panen. Hanya kami sampaikan kepada petani tentang protokol pertanian di lapangan untuk meminimalisasi  penyebaran Covid-19," papar Priyanto.


Perkiraan Panen padi di Desa Kadungan hingga awal April mencapai lebih 90 hektare. 


Priyanto sangat mengapresiasi para petani dan penyuluh yang berjuang untuk tetap berproduksi dan mencapai ketahanan pangan negeri. 


Menurutnya, Alsintan sangat membantu proses panen, khususnya menangkal penyebaran virus Corona karena penggunaan mesin panen combine harvester meminimalisir interaksi dengan banyak orang di lapangan.


“Biar kami para petani dan penyuluh yang berjuang untuk tetap berproduksi, bapak dan ibu semua tetap tinggal di rumah," pungkasnya.[advertorial]