Antusias, Penyuluh di Batola Kenali Musuh Alami dan Pengendalian Hayati

ANTISIPASI dini serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) perlu dilakukan agar produksi pangan tetap terjaga hingga panen. Organisme penggagu tanaman merupakan masalah terbesar yang sering dialami petani dalam melaksanakan budidaya padi termasuk budidaya padi lahan rawa. 


Dalam mengatasi serangan OPT, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Binuang melaksanakan Pelatihan Aparatur Pengendalian OPT Padi Lahan Rawa di BPP Belawang Kecamatan Belawang, Kabupaten Barito Kuala (Batola). 


Ini untuk memberikan pembekalan terhadap penyuluh dalam mengatasi masalah Hama dan Penyakit yang menyerang padi lahan rawa.


Sebanyak 30 penyuluh mengikuti pelatihan tersebut yang berasal dari beberapa Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di Batola.
 
Dalam sambutannya, Ir Rahmadi sebagai Kepala Bidang Penyuluhan yang mewakili Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Batola mengatakan, kegiatan ini sangat perlu dilakukan karena untuk meningkatkan pengetahuan penyuluh.


“Bukan hanya teori, tetapi praktik yang dilakukan dalam pelatihan diharapkan dapat diadopsi dan diduplikasi di kalangan petani,” jelasnya. 


Rahmadi juga mengatakan, pelatihan ini memberi energi positif dan angin segar untuk penyuluh, karena adanya praktik pengendalian OPT menggunakan agensia hayati dan pestisida nabati yang belum banyak dipraktekkan penyuluh dalam melakukan penyuluhan ke petani. 
Selanjutnya dalam rangka pengembangan Food Estate di Kabupaten Barito Kuala, diharapkan terjadi percepatan implementasi peran penyuluh dan BPP dalam meningkatkan produkstivitas padi di Barito Kuala. 


“Saya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada BPPSDMP Kementerian Pertanian melalui BBPP Binuang yang sudah mengalokasikan pelatihan di Kabupaten Barito Kuala,” tutur Rahmadi.
 
Pada kegiatan pelatihan ini, Amallia Rosya SP MSi sebagai Fasilitator melaksanakan pengamatan OPT di lahan padi milik petani. Hal ini dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis hama penyakit dan musuh alami pada tanaman padi.


Selain itu, para penyuluh dapat menghitung kerusakan yaitu Intensitas Hama dan Penyakit, pentingnya kegiatan monitoring OPT menjadi dasar dalam mengambil keputusan pengendalian. 


Kegiatan seperti SL PHT yang dikolaborasikan dengan pengendalian Hama Terpadu diharapkan dapat mengatasi OPT pada Padi Lahan Rawa. 
Amallia mengatakan, kegiatan pelatihan ini menerapkan praktik pengendalian OPT dengan konsep pengendalian secara terpadu, yaitu dimulai dari monitoring hama, pengamatan agro ekosistem mencakup musuh alami, pengaruh abiotic dan biotik. 


Selanjutnya dilakukan pengendalian dengan agensia hayati dan pestisida nabati. Sumber pestisida nabati menggunakan galam yang merupakan tanaman lokal Kalimantan Selatan dan banyak tersedia di Barito Kuala. 


Ketika praktik para penyuluh sangat antusias, karena praktik pestisida nabati dengan daun galam merupakan hal baru bagi penyuluh dan banyak tersedia di lahan petani.[rilis]